DENPASAR, SELASA - Hajatan tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) sesuai tujuan awalnya, terus menggali, membina dan mengembangkan berbagai jenis dan aspek kesenian Bali. Melalui PKB pula, setiap kabupaten/kota di Bali didorong untuk terus menggali, mengangkat dan menampilkan keseian khas daerahnya masin masing.
"Hajatan tahunan PKBdi Bali sudah cukup lama, kini memasuki tahun ke 30. Dampaknya sangat terasa, telah memberikan kontribusi tinggi terhadap penguatan jati diri orang Bali," tutur Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai S MA di Denpasar, Selasa (10/6) siang.
Ia dimintai komentarnya terkait pelaksanaan PKB tahun ini yang akan berlangsung 14 Juni hingga 12 Juli mendatang. Menurut rencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membuka PKB di Denpasar, Sabtu (14) mendatang. Berkaitan dengan penguatan jati diri dimaksud, Wayan Rai menunjuk sejumlah contoh. Di antaranya, lanjutnya, orang Bali belakangan bangga mengenakan pakaian adatnya. Kebanggaan berpakaian khas Bali tidak hanya dalam upacara adat, akan tetapi juga pada kesempatan lain yang sifatnya umum bahkan hingga acara pemerintahan.
"Bisa disaksikan dalam beberapa kesempatan acara pemerintahan, para pejabat Bali bersama jajarannya justru berpakaian adat. Ini membuktikan mereka tidak lagi merasa risih, tapi bangga mengenakan pakaian adatnya," katanya.
Contoh lainnya, orang Bali juga bangga mementaskan berbagai atraksi seni daerahnya. Mereka pun bangga jika atraksi kelompoknya ditampilkan dalam pementasan di panggung tingkat kabupaten, provinsi, nasional, bahkan internasional. "Juga ada banyak jenis kesenian daerah yang muncul melalui pementasan PKB, seperti tari telek atau sewagati khas Jembrana," tambah Wayan Rai memberi contoh.
