Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:05 WIB
Sukawi Ingin Membesarkan Jateng
Yovita Arika | Senin, 9 Juni 2008 | 21:53 WIB
|
Share:

KIPRAH Sukawi Sutarip di pemerintahan dimulai ketika ia terpilih menjadi Wali Kota Semarang pada 2000 dengan menggunakan kendaraan politik PDI Perjuangan. Kemudian, dengan menggunakan kendaraan politik koalisi Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa, ia terpilih kembali sebagai Wali Kota Semarang 2005-2010.

Kini, dengan menggunakan kendaraan politik Partai Demokrat, berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera, ia berkiprah di ajang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2008. Berikut petikan wawancara Kompas dengan Sukawi beberapa waktu lalu.

Apa yang mendorong Anda ikut maju ke Pilgub Jateng?

Waktu kecil, saya bercita-cita membangun daerah kelahiran saya, Pati, dan sekitarnya. Ternyata Allah menghendaki lain, saya malah membangun Kota Semarang. Berarti saya masih mempunyai tugas untuk membangun daerah-daerah yang sejak kecil saya inginkan. Ada kesempatan untuk berbuat itu kalau, insya Allah, saya menjadi gubernur.

Menurut Anda, apa permasalahan utama di Jateng yang harus segera ditangani?

Yang utama, produk domestik regional bruto atau PDRB Jateng itu tertinggal dengan Jawa Timur dan Jawa Barat. Padahal, tanah di Jateng tidak lebih jelek. Kalau permasalahan-permasalahan yang klasik, misalnya pengangguran, kemiskinan, kematian bayi, angka harapan hidup, kesehatan, pendidikan, semua itu hampir sama.

Kekuatan apa yang Anda miliki untuk maju?

Modal saya adalah apa yang telah saya lakukan. Misalnya, di bidang pendidikan, Semarang telah mencapai pendidikan gratis. Di bidang sosial, ada santunan kematian. Kami memberikan insentif kepada guru-guru swasta, guru mengaji, guru agama, dan RT/RW mendapatkan biaya operasional.

Mengacu Pemilihan Presiden yang lalu, apakah Anda mengandalkan Partai Demokrat?

Memilih gubernur termasuk bupati/wali kota itu figur. Pada pemilihan kedua, kami diangkat partai yang hanya mempunyai suara 17 persen, tetapi saya mendapatkan suara 75 persen. Artinya, figur.

Bagaimana potensi koalisi Partai Demokrat dan PKS?

Potensinya cukup besar. Di Jawa Barat yang menang partai kecil (PKS). Di sini juga nanti begitu, insya Allah.

Apa program terobosan Anda dalam 100 hari pertama jika terpilih nanti?

Dalam 100 hari itu belum bisa berbuat apa-apa. Menempatkan pola dasar pun belum bisa sempurna sehingga janganlah masyarakat mengandalkan 100 hari gubernur berbuat apa. Seratus hari itu dipakai untuk meletakkan dasar, tetapi mempunyai pola. Misalnya, kita harus membuka Jateng ke dunia internasional, ini harus dipahami bupati dan wali kota.

Visi misi Anda salah satunya adalah mewujudkan pemerintah yang good governance, mewujudkan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi, nepotisme. Sementara sekarang Anda sebagai tersangka kasus dugaan korupsi...

Dahulu saya juga pernah diberitakan seperti itu, nyatanya tidak benar. Justru kita juga harus mawas diri, pemberitaan itu juga harus good governance. Contohnya, Kota Semarang mulai awal tahun 2000 utangnya besar, tahun 2004 utang lunas. Kota Semarang pendidikan sudah mencapai ke pendidikan gratis. Kota Semarang sudah dapat memberi santunan kepada seluruh warganya, kalau meninggal dunia. Kota Semarang bisa memberi insentif kepada guru ngaji, guru agama. Ini benar atau salah.

Semua itu membutuhkan biaya yang besar. Kalau saya korupsi, tidak akan bisa seperti itu. Saya selama tujuh tahun tidak pernah mengambil uang negara sesen pun, kecuali hak saya, gaji dan tunjangan-tunjangan. Saya diberi asuransi enggak mau karena saya nanti dapat pensiun. Itu salah satu contoh. Lima tahun pertama menjabat, saya tidak memakai mobil dinas. Itu memberi contoh ke bawah bahwa kita harus hidup sederhana.

Bagaimana cara Anda mencegah korupsi?

Semua aturan ada.

Kalau praktik di lapangan ada, bagaimana?

Kalau ketahuan saya pecat. Ini tidak main-main. (Yovita Arika)