Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 04:09 WIB
Wajar, Perkebunan Besar Miliki CSR
Khaerudin | Kamis, 5 Juni 2008 | 21:21 WIB
|
Share:

SIMALUNGUN, KAMIS - Bupati Simalungun Tuan Zulkarnain Damanik mengungkapkan, dari delapan perusahaan perkebunan besar yang memiliki lahan di wilayahnya, masih ada perusahaan yang tak memiliki komitmen terhadap corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Dalam acara peresmian proyek rehabilitasi gedung sekolah dasar oleh PT PP London Sumatera (Lonsum) di kebun Bah Bulian, Kecamatan Raya Kahean, Simalungun, Kamis (5/6), Zulkarnain mengungkapkan, sedikitnya terdapat delapan perkebunan besar yang memiliki lahan perkebunan sawit dan karet di Simalungun. Mereka adalah perusahaan perkebunan negara hingga perkebunan swasta dengan luas lahan bervariasi, dari mulai 2.000 hektar hingga lebih dari 50.000 hektar.

Zulkarnain mengakui, tak semua perusahaan perkebunan besar tersebut memiliki komitmen terhadap pengembangan masyarakat atau community development (CD) dan CSR. Di antara perkebunan besar tersebut, ada salah satu yang sama sekali tak peduli dengan program CSR. "Mereka merasa sudah cukup dengan menjadi pembayar pajak," ujar Zulkarnain sembari menyebut perkebunan tersebut dimiliki perusahaan produsen ban asal Jepang.

Menurut dia, tuntutan program CD maupun CSR terhadap perkebunan besar sudah sangat wajar, mengingat masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan sangat menentukan keberlangsungan perusahaan. "Kalau terjadi gangguan dari masyarakat, kan justru biaya sosial yang harus dikeluarkan perusahaan lebih tinggi," katanya.

Direktur PT PP Lonsum Joefly Joesoef Bahroeny mengungkapkan, perusahaannya saat ini memiliki komitmen terhadap program CSR salah satunya karena didorong janji pemerintah memberikan keringanan. "Saat ini pemerintah sedang merumuskan biaya untuk CSR ini bisa untuk mengurangi pajak. Kami jelas mendukung rencana ini. Karena kami kan mau berbuat baik dan ini menjadi biaya sendiri bagi perusahaan," katanya.

Saat ini Lonsum, kata Joefly, tengah memusatkan perhatian pada perbaikan kualitas pendidikan masyarakat yang tinggal di sekitar lahan perkebunan mereka. Lonsum menggagas program Lonsum Peduli Pendidikan melalui CSR mereka. "Program CSR kami saat ini tengah diprioritaskan untuk membantu pendidikan, seperti perbaikan gedung sekolah, membantu honor guru, melengkapi sarana seperti komputer hingga pelatihan untuk guru," katanya.

Menurut Joefly sejak tahun 2006 hingga 2007, program CSR Lonsum telah merehabilitasi 44 sekolah dasar dengan biaya mencapai Rp 3 miliar. Pada tahun 2008 dianggar dana sebesar Rp 1 miliar untuk merehabilitasi 10 sekolah dasar. Lonsum juga telah memberikan beasiswa kepada 148 siswa berbagai tingkatan yang merupakan putra-putri masyarakat di sekitar perkebunan dengan jumlah total beasiswa sebanyak Rp 97.920.000.

Zulkarnain mengungkapkan, di Simalungun, pemerintah daerah sangat berharap, program CSR perusahaan perkebunan besar bisa memberi perhatian pada perbaikan infrastruktur berupa jalan, jembatan dan bangunan sekolah di sekitar perkebunan. Dia menuturkan, sangat ironis jika jalan-jalan di perkebunan yang kelasnya III C atau maksimal hanya bisa dilewati truk berbobot 20 ton, setiap harinya harus dilewati truk-truk perkebunan melebihi kapasitas jalan.