JAKARTA,SELASA - Rendahnya ketahanan pangan Indonesia disebabkan masih didominasinya konsumsi karbohidrat masyarakat Indonesia oleh beras, yaitu di atas 100 kg per kapita per tahun. Oleh karena itu, diversifikasi pangan menjadi salah satu jawaban dengan memanfaatkan SDA lokal.
"Diversifikasi pangan misalnya dilakukan dengan mengolah umbi-umbian menjadi substitusi beras dan tepung serta memperbaiki pola konsumsi protein hewan, sayuran dan buah-buahan," ujar Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Hermanto usai diskusi publik mengenai ketahanan pangan di Jakarta, Selasa (3/6).
Upaya ini sebenarnya telah diatur dalam pasal 49 UU No. 7/1996 tentang pangan yang mengatakan bahwa pemerintah harus mendorong penganekaragaman pangan dan pemantapan mutu pangan tradisional. Hermanto juga mengakui bahwa proses ini sebenarnya sudah berjalan namun perlu percepatan sehingga muncul inisiatif peraturan presiden mengenai diversifikasi pangan.
Selain melakukan gerakan nasional diversifikasi konsumsi berbasis bahan pangan lokal, Badan Ketahanan Pangan juga melihat bahwa diversifikasi pangan juga dapat diupayakan melalui pemberian penghargaan kepada masyarakat yang mengkonsumsi pangan non beras, pengenalan pangan lokal non beras kepada anak usia dini dan pengembangan teknologi pangan untuk meningkatkan nilai sosial dan nilai tambah pangan lokal non beras.
