Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 03:30 WIB
AKKBB: Munarman Harus Bertanggung Jawab
Salvanus Magnus Satripatriawan | Senin, 2 Juni 2008 | 15:25 WIB
|
Share:

PERSDANETWORK/BIAN HARNANSA
Massa dari berbagai organisasi masyarakat berkonvoi usai terlibat bentrok dengan massa dari Aliansi Kebangsaan untuk kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Halaman Parkir Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (1/6). Bentrokan dipicu karena AKK-BB mereka nilai mendukung Ahmadiyah. Sebanyak 12 orang terluka dalam peristiwa ini.

TERKAIT:

JAKARTA, SENIN - Buntut penyerangan massa yang beratribut Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Minggu (2/6), pihak AKKBB menyatakan Munarman harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Munarman yang akhirnya mengklaim sebagai Panglima Komando Laskar Islam (KLI) telah menyatakan dirinya sebagai pemimpin penyerangan yang berujung cederanya puluhan orang dari AKKBB.

Tuntutan tersebut disampaikan AKKBB saat menggelar jumpa pers soal insiden tersebut di Wahid Institute, Jakarta, Senin (2/6). Hadir pada kesempatan jumpa pers tersebut, antara lain Ketua LBH Jakarta Asfinawati, Yenny Wahid, Adnan Buyung Nasution, Goenawan Mohamad, serta Ahmad Suaedy sebagai salah satu korban penyerangan.

Juru bicara AKKBB, Asfinawati, menyatakan, pihaknya mengapresiasi kepolisian, dalam hal ini Polda Metro Jaya yang telah menindaklanjuti laporan AKKBB. "Kami mengapresiasi Polda Metro yang telah menerima laporan kami. Kami berharap ini terus diusut karena dari fakta-fakta hukum adanya indikasi penyerangan ini sudah direncanakan," ujarnya.

Selain menuntut pertanggungjawaban Munarman, AKKBB juga mendesak polisi segera menangkap para pelaku tindak kekerasan yang terjadi di Monas dan memprosesnya secara hukum, serta mendesak Presiden untuk membubarkan organisasi yang menebar kekerasan.

Keterangan terakhir yang disampaikan pihak AKKBB menyatakan, 70 orang cedera akibat penyerangan yang bertepatan dengan Hari Lahirnya Pancasila tersebut. Kondisi mereka bervariasi, seperti memar-memar, patah tulang,  hingga geger otak.