Senin, 24 November 2014

News / Kesehatan

Satu atau Dua Ginjal, Sama Saja

Sabtu, 31 Mei 2008 | 14:36 WIB

MUNGKIN Anda satu dari sekian orang yang takut kehilangan ginjal. Apalagi saat Anda ditanya kesediaan untuk mendonorkan ginjal. Kehidupan abnormal mungkin membayangi Anda.

Pemahaman itu dimentahkan dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH, Dipl dari Tim Transplantasi RS PGI Cikini, Jakarta. Tunggul mengatakan, hidup dengan satu ginjal tidak ada bedanya dengan dua ginjal. Yang terpenting adalah ginjal tersebut berfungsi baik dan dalam keadaan sehat. "Fakta dan data menunjukkan bahwa hidup dengan satu ginjal yang berfungsi baik tidak jauh berbeda dengan dua ginjal," ujar Tunggul saat acara Seminar Awam 'Mandiri dengan Transplantasi Ginjal' di RS PGI Cikini, Jakarta, Minggu (31/5).

Para pasien gagal ginjal selama ini sering melakukan cuci darah. Sayangnya, tindakan tersebut tidak mengganti sepenuhnya fungsi ginjal, seperti fungsi pembentukan darah dan metabolisme tulang. Dalam keadaan kronis, jelas Tunggul, pilihan terbaik adalah melakukan transplantasi ginjal. Pemindahan satu ginjal sehat kepada pasien gagal ginjal dinilai akan mengembalikan kualitas hidup pasien yang lebih baik khususnya bagi pasien yang telah memasuki gagal ginjal tahap lima.

Berdasarkan pengalaman selama ini, risiko kematian karena melakukan transplantasi ginjal adalah 1:3.000. Secara medis, pelaksanaan transplantasi ginjal tidak mengalami hambatan berarti di Indonesia. Kemampuan dan pengalaman dokter ahli bedah ginjal (urologis) di Indonesia sudah teruji. Demikian pula soal sarana dan prasarana serta kelengkapan obat-obatan antipenolakan ginjal baru (imunosupressif drugs) bukan kendala.

Di Indonesia, transplantasi ginjal telah dilakukan sejak 1977 di RSCM dan RS PGI Cikini. Hingga saat ini, RS PGI Cikini telah melayani 283 kali transplantasi ginjal bagi para pasien gagal ginjal kronis. Pelaksanaan transplantasi yang membutuhkan dana sekitar Rp 50 juta sampai Rp 150 juta ini tidak mudah. Kemungkinan terjadinya penolakan tentu ada. Namun, ginjal yang gagal didonorkan bisa dikembalikan kepada pendonornya. Keberhasilan transplantasi sangat ditentukan perencanaan, persiapan, dan koordinasi oleh tim transplantasi, dari persiapan hingga pascaoperasi. Seusai transplantasi, pasien masih memerlukan obat-obatan untuk mencegah penolakan terhadap ginjal baru.

Kondisi pendonor dan penerima pun tidak bisa disepelekan. Tapi jika berhasil, pasien tidak lagi berurusan dengan aktivitas bolak-balik cuci darah. Bersama pendonor, pasien dapat hidup secara baik dan berkualitas, tidak berbeda dengan orang-orang yang memiliki dua ginjal.


Editor :