Apa Kabar Transportasi Sungai di Jakarta? - Kompas.com

Apa Kabar Transportasi Sungai di Jakarta?

Kompas.com - 29/05/2008, 18:29 WIB

Pemprov DKI Jakarta akan mendatangkan dua kapal motor baru tahun depan untuk sarana transportasi sungai di Banjir Kanal Barat. Uji coba dua kapal motor sebelumnya gagal total.

DUA unit kapal motor, Krapu III dan VI, yang sejak pertengahan tahun lalu melayani warga Jakarta setiap Sabtu dan Minggu pelesiran di Banjir Kanal Barat kini menghilang. Dua dermaga di jalur itu, satu di kawasan Halimun, Jakarta Selatan dan satu lagi di Tanah Abang Jakarta Pusat, sudah tidak terurus. Petugas pemungut sampah di sepanjang rute dua kapal itu juga ikut 'hilang' bersama dua kapal tersebut.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, mengaku tidak tahu sejak kapan dua kapal motor itu berhenti beroperasi. "Saya juga baru tahu ketika teman-teman wartawan tanya, kapal-kapal itu ke mana," kata Pristono beberapa waktu lalu. Pengakuan yang terdengar janggal karena operasi dua kapal itu ada di bawah kendali Dinas Perhubungan.

Kehadiran dua kapal itu semula merupakan awal dari proyek besar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk membangun sarana transportasi sungai atau air. Sadar proyek itu kurang siap, dua kapal yang ada hanya difungsikan sebagai sarana wisata yang bisa nikmati warga setiap Sabtu dan Minggu.

"Sekalian sebagai sosialisasi tentang transportasi air," kata Sutiyoso, Gubernur Jakarta ketika itu.

Peluncuran proyek itu memang tergolong nekad. Sejak awal sejumlah kendala sudah menghadang seperti masalah sampah dan debit air yang tidak pasti. Saat hujan debit air bisa melewati batas atas ketinggian air untuk pengoperasian kapal. Ketika tidak hujan debit airnya justru berada di bawah batas bawah ketinggia air untuk pengoperasian kapal.

Akibatnya, kapal sering kandas atau menabrak pipa atau kabel utilitas (telepon, gas) di atas sungai. Baling-baling kapal juga sering tersangkut sampah meski ada petugas yang rutin menjaring sampah.

Namun Sutiyoso bersikeras, proyek itu harus tetap jalan. Suara sumbang pun muncul. Proyek itu dipaksakan demi citra baik Sutiyoso yang akan berakhir masa jabatannya sebagai gubernur. Namun Pemprov membantah. "Memang belum begitu siap. Namun kapan lagi kalau tidak sekarang. Kita punya kebiasaan menunda-nunda," kata Udar Pristono ketika itu.

Belakangan, Pristono juga mengungkapkan bahwa dua kapal yang dioperasikan memang tidak pas untuk angkutan sungai karena lambungnya terlampau cembung sementara air kanal dangkal. Dua kapal tersebut dirancang untuk angkutan laut, bukan untuk angkutan sungai berair dangkal.

***

UJI coba akhirnya gagal total. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Pemprov DKI Jakarta untuk mengembangkan moda transportasi sungai. Tahun depan akan didatangkan lagi dua kapal motor yang dirancang untuk angkutan sungai. "Lambung kapalnya datar sehingga tidak mudah kandas," kata Pristono.

Jalur transportasi sungai di Banjir Kanal Barat yang saat ini baru sepanjang 1,7 kilometer (Tanah Abang-Halimun) akan diperpanjang sampai ke Manggarai. Jalur lain akan dibuka di kawasan Jakarta Barat dan Utara. Kalau Banjir Kanal Timur sudah selesai dibangun, disitu pun akan ada sarana transportasi air.

Transportasi sungai akan menjadi salah satu jenis moda angkutan umum massal yang akan dikembangkan selain bus dan kereta api untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Keberadaan moda transportasi sungai ditetapkan dalam program pola transportasi makro (PTM) Pemprov DKI Jakarta, yang dicanangkan tahun 2003.

Di masa lalu angkutan sungai memang menjadi satu andalan jenis transportasi di Jakarta. Pada sekitar akhir tahun 1800-an sampai awal tahun 1900-an misalnya, perahu dapat berlayar di Kali Krukut dari kawasan Kota sampai di Tanah Abang. Peti jenazah dari rumah sakit (sekarang gedung Museum Bank Indonesia) di Kota diangkut dengan perahu ke Pekuburan Kebon Jahe Kober (sekarang kompleks Museum Taman Prasasti) di Tanah Abang melalui Kali Krukut. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 1600-an, Meester Cornelis yang menguasai lahan hutan di daerah yang Jatinegara sekarang ini menghanyutkan gelondongan kayu jati melalui Sungai Ciliwung ke Batavia (kawasan Kota).

Namun itu dulu. Jika sekarang Pemprov DKI Jakarta hendak menghidupkan lagi moda transportasi sungai, perancanaan harus matang. Selain kontruksi kapal, debit air serta sampah masih menjadi kendala serius. Jika tidak ada solusi jitu untuk dua masalah itu, angkutan sungai tetap berada dalam bayang-bayang kegagalan, bahkan mungkin hanya khayalan belaka.

Editor

Close Ads X