Mutiara dari Peninsula Asia. Julukan itu pantas disandang Hanoi, ibu kota pemerintahan Republik Sosialis Vietnam. Kota tua ini begitu menebarkan pesona di tengah kesederhanaan dalam segala sendi kehidupan masyarakatnya.
Hanoi adalah kota yang nyaman untuk dikunjungi. Masyarakat yang ramah, lingkungan yang asri dan bersih, makanan berlimpah, dan harga-harga yang relatif murah akan membuat kita betah. Dan tidak seperti kebanyakan kota di Asia Tenggara, Hanoi mempunyai empat musim. Bulan Oktober-Desember adalah saat paling tepat untuk melancong ke Hanoi, yang mulai memasuki musim gugur dan menjelang musim dingin yang tidak bersalju. Di bulan-bulan tersebut, suhu udara Hanoi berkisar 20-25 derajat celcius di siang hari.
Hanoi punya sejarah teramat panjang sebagai sebuah daerah hunian. Kota ini tergolong kawasan hunian purba. Berdasarkan peninggalan arkeologis, daerah yang sekarang bernama Hanoi sudah dihuni manusia sejak 10 ribu tahun lalu. Thang Long, itulah nama pertama Hanoi ketika ditemukan oleh Kekaisaran Cina dari Dinasti Han, tahun 214 SM. Nama itu berarti dragon-fly, alias capung. Konon, sang Kaisar melihat jutaan serangga itu berterbangan saat datang ke daerah subur yang terletak di tepi Sungai Hong, atau yang dikenal sebagai Sungai Merah yang super lebar, tersebut.
Penuh Bangunan Klasik
Di Hanoi yang berpenduduk sekitar 3 juta jiwa ini, kita tak akan disuguhi pemandangan khas kota besar yang serba gemerlap, atau hiburan malam dengan house music yang berdentam-dentam. Mata dan pikiran kita akan dimanjakan pemandangan gedung-gedung klasik peninggalan penjajah Perancis, pagoda-pagoda peninggalan Kekaisaran Vietnam, taman-taman yang luas, serta danau-danau yang tenang dan meneduhkan. Hanoi dikuasai Prancis tahun 1874 sampai Vietnam merdeka 2 September 1945, setelah kaum penjajah itu mulai menduduki Vietnam bagian selatan pada tahun 1858.
Bagi peminat arsitektur, Hanoi adalah kota yang sanggup memanjakan selera Anda terhadap seni bangunan. Bangunan-bangunan bergaya gothic sampai artdeco ada di setiap sudut kota. Cobalah berjalan jalan di sekitar kawasan diplomatik di Ngo Quyen Street, kawasan perkantoran pemerintah di Dhin Tien Hoang Street, dan sekitar Musoleum Ho Chi Minh.
Salah satu masterpiece bangunan peninggalan Perancis di Hanoi adalah Hanoi Catedral, yang dibangun tahun 1887. Gereja yang kini bernama Regina Pacis ini begitu kekar. Sosok dindingnya yang tinggi besar dan berwarna gelap penuh relung, mengesankan keangkeran bangunan bergaya gothic.
Jangankan peninggalan Perancis yang relatif 'masih muda' karena berasal dari abad ke-19, artefak yang berasal jauh dari masa sebelumnya juga masih utuh. Pemerintah Vietnam yang komunis sangat menghargai warisan bangsanya, sekalipun itu punya kaitan dengan imperialisme Cina maupun Perancis. Bangunan-bangunan peninggalan Dinasti Ly yang memerintah Kerajaan Vietnam di abad ke-11 juga masih lestari, misalnya One Pillar Pagoda. Ini sebuah pagoda unik, karena bangunan yang berdiri di atas kolam itu hanya ditopang sebuah tiang besar setinggi kurang lebih 3 meter.
One Pillar Pagoda yang menjadi inspirasi Unity Vietnam masih teguh berdiri hingga kini sejak dibangun pada tahun 1049. Meskipun pernah beberapa kali hancur akibat penjajahan Perancis sampai perang Vietnam, pemerintah terus saja merestorasi One Pillar Pagoda sehingga tetap utuh.
Kalau Anda ingin sekedar bersantai, rendezvous, joging, atau melakukan Thai Chi, pilih saja untuk berlama-lama di Danau Hoan Kiem. Danau yang menjadi pusat wisata di Hanoi ini adalah tempat nongkrong paling asyik. Di pagi hari, Hoan Kiem menjadi Senayan-nya penduduk Hanoi. Mereka melakukan aktivitas olahraga di sekeliling danau yang teduh ini.
Bagi peminat wisata kuliner, Hoan Kiem juga layak direkomendasikan. Kafe dan restauran bertebaran di sepanjang tepian danau. Tinggal pilih makanan lokal bakmi pho hoa atau steak gaya Eropa. Hanya saja agak susah menemukan masakan gaya Indonesia yang halal di Hanoi.
Cuma ada dua restoran yang menyajikan spesial makanan halal di Hanoi, Hotel Thien Thuy di Hang Thung Street milik orang Malaysia, Ben Taat Alias, dan restoran Aseanfood di Ba Trieu Street yang dimiliki Galvin Ng, juga orang Malaysia.
Soal menikmati makanan ini bisa ditambahkan, di Hanoi tidak ada jenis makanan fast-food atau cepat saji model McDonald's atau KFC. Semua makanan di Hanoi disajikan dari fresh ingredients. Jenis-jenis sayuran yang disantap juga berganti-ganti, menurut musim di Hanoi. Sayur yang dijumpai di musim panas, belum tentu ada dimusim dingin. Agrikultur Vietnam memang belum terlalu bagus, meskipun 80 persen masyarakatnya hidup dari bercocok tanam.
Kiat Keliling Kota
Berkeliling Hanoi tidak sulit. Selain kota ini kecil, tidak lebih besar dari Bogor, transportasi di Hanoi juga gampang. Tinggal pilih, naik xe om (ojek motor), taksi, atau bus kota. Bus kota Hanoi jauh lebih bagus dari apa yang ada di Jakarta. Hanya dengan membayar 2500 VND/Vietnam Dong (sekitar Rp 1250), Anda sudah mendapat layanan bus Daewoo ber-AC. Cuma Anda harus punya nyali nekat kalau ingin memakai bus, sebab selain banyak jurusan, semua keterangan memakai huruf Vietnam.
Taksi juga harus pilih-pilih. Anda bisa pilih taksi yang menggunakan mobil mini Daewoo Matiz. Ini taksi paling murah dengan flag rate 8000 VND. Ingin lebih lega, ambil taksi 26.26.26 yang menggunakan Corolla Altis. Hanya saja tarifnya lebih mahal, dengan flag rate 11 ribu VND. Jangan sembarang ambil taksi Vietnam, sebab yang memakai argo kuda juga ada.
Cara paling efektif memang pakai xe om. Ojek Vietnam ini membuat pergerakan kita makin lincah dan cepat. Hanoi yang kecil dan banyak persimpangan, membuat perjalanan dengan mobil jadi kurang nyaman karena terlalu sering berhenti. Sepeda motor adalah raja jalanan di Hanoi dan semua kota di Vietnam.
Kalau ingin sehat dan ikut menjaga kesegaran udara Hanoi, bisa pilih xich lo (becak) atau jalan kaki. Repotnya kalau kita memilih xe om atau xich lo, kita harus siap tawar menawar. Tukang ojek di sana suka ngawur dalam menentukan harga untuk turis. Untuk perjalanan jarak dekat yang cuma memerlukan bayaran 5000 VND, dia bisa seenaknya minta dua atau tiga kali lipat lebih besar.
Asal Anda bepergian bersama guide orang Vietnam atau mampu berbahasa Vietnam tak apa. Kalau tidak, bakal sedikit repot ketika tawar menawar. Seperti di Indonesia, bahasa Inggris juga bukan bahasa utama di Vietnam. Wajar kalau tak banyak orang yang memahaminya dengan baik, walapun saat ini kursus bahasa Inggris sedang ngetren di Hanoi.
Berjalan kaki bisa jadi pilihan. Jalan kaki di Hanoi jauh lebih nyaman dibandingkan berjalan kaki di Jakarta. Trotoar di Hanoi lebar-lebar, bisa mencapai 4 meter dengan naungan pohon-pohon rindang. Sangat nyaman dan tak usah khawatir terserempet kendaraan bermotor.
Satu hal lagi yang membuat kita nyaman, Hanoi adalah salah satu kota paling aman di Asia. Di sini kasus kriminalitas nyaris nol. Para staf di KBRI Hanoi mengibaratkan: menggendong emas sekarung di tengah malam pun tak bakalan ada orang yang mengganggu. Penasaran? (Donny Winardi)

