SURABAYA - Bisa jadi nasib apes tak menghampiri Rudi Hamdani (37), warga Ketintang Barat I, Surabaya, jika dia langsung pulang ke rumah setelah mengambil uang Rp 44 juta dari BCA Gunungsari, Rabu (28/5). Tapi uang yang sedianya untuk tender proyek penyelenggaraan PON XVII di Samarinda, Kalimantan Timur, itu amblas digondol perampok, setelah bapak dua anak itu menemui Evi Widiastuti (23), alumnus UPN Veteran asal Bratang Gede III, di Pujasera Reny, Bratang Gede.
Rudi dan pengunjung Pujasera Reny lainnya tak kuasa menghentikan aksi perampokan di tempat itu setelah tersangka melepaskan tembakan ke udara. Peristiwa ini terjadi setelah Rudi mengambil uang Rp 44 juta di Bank BCA Gunungsari, sekitar pukul 13.00. Seusai bertransaksi, Rudi menghubungi Evi Widiastuti melalui ponsel. Dia mengajak gadis yang dikenalnya saat wisuda mahasiswa UPN Veteran beberapa bulan lalu itu bertemu di Pujasera Reny. Dengan mobil BMW warna biru dongker KT 1818 BR, Rudi meluncur ke tempat yang sudah disepakati. Dalam pertemuan itu, Evi bersama teman gadisnya, Tri Ermawati (26), perempuan asal Wonocolo. Dalam perjalanan, Rudi sudah merasa waswas. Saat di tempat parkir dia ragu-ragu apakah uang yang terbungkus plastik warna hitam itu ditinggal atau dibawa masuk.
Rudi kemudian menemui Evi dengan membawa uang itu. Saat ditanya apa isi bungkusan itu, Rudi mengatakan bahwa isinya adalah sesuatu yang tidak bisa dia tinggalkan. Setelah berbincang sejenak, Rudi meminjam ponsel Evi untuk menghubungi seseorang karena pulsa HP Rudi habis.
“Rudi kemudian beranjak untuk membeli pulsa di tempat itu. Tapi baru beberapa meter dia melangkah, Evi berteriak 'rampok' karena ada seseorang yang merampas bungkusan hitam berisi uang milik Rudi. Uang itu diletakkan di atas meja makan,” ujar Kepala Unit Reskrim Polsek Wonokromo Iptu Nur Su'ud mendampingi Kepala Polsek AKP Nuriyadi.
Mendengar teriakan itu, pengunjung pujasera sempat bergerak untuk menghadang pelaku. Begitu juga dengan sejumlah tukang becak yang mangkal di depan pujasera. Tapi, langkah mereka terhenti setelah tersangka yang teridentifikasi berperawakan kecil, gigi mrongos, wajah bopeng, mata plolong, dan mengenakan jaket warna krem ini mengeluarkan tembakan ke udara. “Saya mendengar dua kali suara tembakan,” ujar Sundari, seorang pegawai pujasera.
Setelah itu, tersangka melarikan diri ke arah Jalan Ngagel bersama kawannya yang menunggu di atas sepeda motor Jupiter MX tanpa nopol. Keterangan sejumlah saksi yang telah diperiksa polisi, kedatangan dua perampok itu sebenarnya sudah diketahui juru parkir pujasera. Saat itu, salah satu tersangka yang berperan sebagai joki menunggu di halaman pujasera dengan tetap menghidupkan mesin sepeda motornya.
“Tersangka yang menggunakan helm teropong itu sempat ditegur jukir untuk memarkir sepeda motor di tempat yang ada. Tapi dia pergi, pindah di tepi jalan,” ujar Nur Su'ud. Sementara itu, tersangka yang berperan sebagai eksekutor sempat duduk di kursi pengunjung, mengawasi calon korbannya. “Dia juga sempat disodori daftar menu oleh pegawai pujasera, tapi tidak pesan apa-apa,” ujarnya.
Mendengar adanya perampokan bersenjata api itu, Kepala Unit Idik I Reskrim Polwiltabes Surabaya AKP Arbaridi Jumhur juga memburu pelaku. Perwira nyentrik yang sukses mengungkap sejumlah perkara besar di wilayah hukumnya ini langsung bergerak ke TKP untuk mengumpulkan data awal. Meski tersangka sempat mengeluarkan tembakan, tapi tak ditemukan selongsong peluru di lokasi. “Kami menduga yang dipakai revolver,” kata Jumhur. tja