JAKARTA, RABU-Pemberian Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) oleh pemerintah dituding sebagai sikap untuk meredam aksi para mahasiswa yang menyuarakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Bantuan ini, dianggap tak ada beda dengan pemberian langsung tunai (BLT) yang sudah dikucurkan kepada masyarakat sebelumnya.
"Pemberian ini (BKM) sama saja modelnya dengan BLT. Maksudnya sudah bisa ditebak, ingin menjinakkan mahasiswa. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah data para mahasiswa yang perlu dibantu itu memang ada? Kenapa tidak dengan program pemberian bea siswa saja kepada para mahasiswa berprestasi yang kondisi ekonomi keluarganya terbatas," kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo kepada Persda Network, Rabu (28/5).
Pemerintah, dalam hal ini Presiden SBY, mengintruksikan untuk membagikan dana pengalihan subsidi atas kenaikan BBM sebesar 28.7 persen. Pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp 200 milyar dalam program Bantuan Khusus Mahasiwa (BKM) yang akan dibagikan mulai bulan Juli kepada 400. ribu mahasiswa dari 83 perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Dana ini akan disalurkan melalui Departemen Keuangan kepada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Pihak Depdiknas kemudian menyerahkan dana BKM kepada para Rektor untuk dibagikan kepada mahasiswa. Program ini rencananya akan diteruskan tahun 2009 setelah disetujui DPR terlebih dahulu.
Tjahjo Kumolo menjelaskan, pemberian bea siswa kepada para mahasiswa lebih mendidik dari pada harus menerima BKM yang tak ada bedanya dengan BLT. "Jadi, BKM ini sama saja dengan pemerintah yang ingin menjinakkan rakyat," cetus Tjahjo.
Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) Irgan Chairul Mahfiz mempertanyakan maksud dan tujuan pemberian BKM ini oleh pemerintah. Publik, tentu tidak bisa memahami. "Kalau sifatnya untuk membantu perkuliahan dan sifatnya temporer, jelas tidak mendidik dan tidak tepat. Seharusnya pemerintah tidak memberi 'ikan' kepada mahasiswa.Lebih baik alokasikan BKM itu untuk mendukung fasilitas pendidikan mahasiswa yang lebih permanen dan berkelanjutan, " kata Irgan.
Irgan mengatakan, BKM terkesan "uang suap agar mahasiswa tidak kritis kepada pemerintah. "Kalau kesan ini memang benar, maka akan terjadi penolakan dari mahasiswa sehingga hanya mempermalukan pemerintah saja yang tujuannya menjadi tidak tercapai," jelasnya. "Kami memberikan saran pada pemerintah, kalau memang berniat membantu mahasiswa, berikanlah BKM itu ke tempat yang lebih produktif dan tidak terkesan konsumtif," kata Irgan lagi.
Drajad Wibowo, anggota Fraksi PAN DPR lebih berani menyatakan. BKM tidak lain sebagai bagian tebar pesona pemerintah kepda para mahasiswa. Dengan maksud, kata Drajad, sudah bisa ditebak pemerintahan ini bisa terpilih lagi di pertarungan 2009 nanti. "BKM itu sangat politis motivasinya. Selain untuk meredam kekritisan mahasiswa, tujuannya adalah agar rezim ini terpilih lagi dengan cara menggunakan uang negara," cetus Drajad Wibowo. (Persda Network/Rachmat Hidayat)

