Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 02:41 WIB
Perbankan Harus Waspadai Inflasi
Caroline Damanik | Senin, 26 Mei 2008 | 17:01 WIB
|
Share:

JAKARTA,SENIN - Dengan tingginya harga minyak yang sudah menduduki posisi di atas US$130 per barel, perbankan harus bersiap-siap merasakan akibatnya. Dipredikskan oleh salah satu pengamat ekonomi Iman Sugema, bukan tidak mungkin jika kenakan harga minyak mencapai US$200 per barel, inflasi akan mencapai angka dua digit sebesar 20 persen.

Namun menurut Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI) A. Tony Prasentiantono, banyak bank yang belum menyadari benar akan bahaya krisis akibat kenaikan BBM ini. "Kemungkinan adanya carry over dari proyek-proyek yang tidak bisa dilakukan di 2007, baru bisa dilakukan di awal tahun 2008 dan sebagian besar menganggap inflasi kumulatif di awal 2008 sebesar 3.4 persen belum merisaukan," ujar Tony dalam konferensi pers rating 125 bank versi InfoBank 2008 di Jakarta, Senin (26/5).

Tony juga menambahkan bahwa masalah yang mungkin dihadapi perbankan bukan hanya inflasi yang terjadi saat ini namun juga inflasi di masa yang akan datang (expected inflation). Sementara itu, pengamat ekonomi Iman Sugema mengatakan kinerja perbankan di tahun 2008 tidak akan sebagus performa di tahun 2007.

"Penyebabnya adalah tradeable inflasion, inflasi akibat barang-barang yang dijual di pasar internasional. Empat bulan ini yang terjadi adalah tradeable inflasion. Nggak ada hubungannya dengan BBM. Kalo dari 2005 hanya harga minyak mentah yang naik tapi sekarang yang naik semua komoditas, terkait soal biofuel. Kedele, jagung semua dimanfaatkan untuk produksi biofuel," ujar Iman.