JAKARTA,SENIN - Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini masih dirundung masalah minyak. Masih tingginya minyak mentah dunia serta dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menghalangi gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pasar akan memperhatikan dampak dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM rata-rata 28,7 persen. Aksi demo makin marak menentang kenaikan harga BBM. Pasar juga akan mengantisipasi tingginya inflasi Mei yang diprediksi Badan Pusat Statistik (BPS) akan mencapai 1 persen karena dipicu kenaikan harga BBM. Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, bobot BBM merupakan salah satu komoditas yang memberikan bobot sumbangan inflasi terbesar setiap bulan, mencapai sekitar 1,7 persen.
Sedangkan Bank Indonesia (BI) menyatakan, kenaikan harga BBM 28,7 persen, membuat laju inflasi tahun ini melaju kencang melebihi 12 persen, atau dua kali lipat dari dua tahun lalu. Yang berarti meleset jauh dari target tahun ini yakni sebesar 5 plus minus 1 persen.
Pekan lalu, di bawah ancaman harga minyak mentah yang menyentuh level 135 dollar AS per barrel serta menjelang kenaikan harag BBM, secara keseluruhan, IHSG melemah 0,11 persen dibanding pekan sebelumnya menjadi 2.465,955. Sedang indeks Kompas100 turun 0,37 persen ke posisi 616,496. Serta indeks LQ45 juga melemah 0,37 persen pada level 527,115.
Menurut analis Trimegah Securities Heldy T Arifien, seperti dikutip Kontan, pekan lalu BEI masih disokong saham perkebunan dan pertambangan. Jika tidak, mungkin indeks akan terpuruk semakin dalam. Dikatakannya pelaku pasar masih yakin melonjaknya harga minyak menguntungkan saham-saham seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, pekan ini juga dibayangi tingginya harga minyak yang dikhawatirkan bisa menghambat belanja konsumen sehingga melukai perekonomian AS secara keseluruhan. Selain itu, bank sentral AS, Federal Reserve juga mengisyaratkan tidak akan memangkas acuan suku bunga utamanya, yang saat ini sudah mencapai 2 persen.
Pada Jumat (23/5) Tindeks Dow Jones Industrial Average anjlok 145,99 poin (1,16 persen) menjadi 12.479,63. Demikian juga indeks Standard & Poor's 500 turun 18,42 (1,32 persen) ke posisi 1.375,93. Serta indeks composite Nasdaq melemah 19,91 poin (0,81 persen) pada 2.444,67.
Menurut para analis, pasar saham yang pada April dan awal Mei berlari kencang, saat ini kembali terlohat rapuh. Secara keseluruhan, untuk pekan lalu Dow melemah 3,91 persen, terburuk sejak Februari. Sedang indeks S&P 500 turun 3,47 persen dan Nasdaq jatuh 3,33 persen.
Wall Street pekan ini menantikan beberapa data ekonomi, antara lain penjualan rumah baru April pada 28 Mei, laporan data cadangan minyak AS pada 29 Mei, data produk domestik brudto (PDB) kuartal pertama 2008 pada 29 Mei, serta laporan pengangguran juga pada 29 Mei.

