Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 13:06 WIB
Jangan Kucilkan ODHA!
Asep Candra | Minggu, 25 Mei 2008 | 12:24 WIB
|
Share:

BANDA ACEH, SABTU - Tindakan diskriminatif terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) ternyata masih banyak ditemukan dalam aktivitas kemasyarakatan termasuk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Fakta diskriminasi itu terungkap dalam sebuah acara diskusi terbuka pada rangkaian kegiatan Malam Renungan AIDS Nusantar  2008, Jumat malam (23/5) kemarin yang diselenggarakan di seluruh Indonesia.  Di Aceh, kegiatan MRAN dipusatkan di kota Banda Aceh  dengan mengggelar acara zikir bersama usai shalat Jumat kemudian longmarch dari Masjid Raya Baiturrahman serta beragam kegiatan lainnya.

"Sebenarnya ODHA sangat butuh dukungan terutama dari keluarga, tapi masyarakat di Aceh masih belum mengerti dan mendiskriminasikan ODHA bahkan pemerintah juga sama," ungkap salah seorang ODHA, M Rizal dalam diskusi terbuka itu..

Dalam diskusi terbuka yang dihadiri istri Wakil Gubernur (Wagub) NAD, Dewi Mutia dan didampingi seorang yang Hidup Dengan HIV dan AIDS (OHIDA), Rizal mengatakan bentuk diskriminasi dari pemerintah yaitu masih belum diterimanya ODHA untuk menjalankan pemeriksaan medis di banyak rumah sakit Aceh.

"Dari cerita orang-orang yang saya dampingi ketika mau memeriksakan kemungkinan HIV dan AIDS, rumah sakit di Aceh belum menerima dengan alasan tidak lengkapnya alat malah mereka disuruh ke Medan," tambahnya.

Terdapat rumah sakit rujukan di Aceh di antaranya Rumah sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh dan RS Kesehatan Kodam Iskandar Muda. Dia menambahkan, peran ulama juga sangat besar dalam memberikan stigma kepada ODHA.

Setelah mereka berani menyatakan diri sebagai ODHA, menurut Rizal, ulama malah menyorot penyebab penyakit tersebut bukan memberi dukungan sehingga masyarakat Aceh yang sebagian besar Muslim dan menjadikan ulama sebagai panutan juga terpengaruh dengan stigma tersebut.

Dengan adanya stigma, ODHA sering menerima perlakuan diskriminasi terutama dari keluarga dan lingkungan sehingga mereka tak berani membuka identitas sebagai penderita HIV dan AIDS.

Padahal menurut Rizal yang aktif di sejumlah organisasi peduli AIDS, penularan HIV dan AIDS tidak semudah penularan Flu Burung karena HIV dan AIDS hanya menular melalui cairan tubuh yaitu darah dan sperma.

"Jadi HIV dan AIDS tidak bisa menular kalau hanya bersentuhan saja. Saya sudah beberapa tahun bekerja dengan sejumlah rekan dan setiap hari berinteraksi tapi setelah dites sampai hari ini mereka masih negatif," katanya.

Rizal mengungkapkan sampai saat ini ia belum membuka status ODHAnya kepada keluarga dan lingkungan kecuali komunitas peduli AIDS sehingga ia belum menerim perlakuan diskriminasi.

"Saya tidak tahu apakah setelah diskusi ini ada teman atau keluarga yang tahu status saya, tetapi saya sudah siap untuk menerima konsekuensi apapun dan saya minta kepada semua ODHA untuk berani membuka diri karena lebih baik kita berbuat daripada terus menyesali nasib," ujarnya.

Di Aceh, hingga 29 Februari 2008 telah ditemukan 29 kasus HIV dan AIDS namun dipekirakan masih banyak yang tidak terdata karena sebagian masyarakat belum mengerti dan mengikuti pemeriksaan di Voluntary Conseling Confidential Testing  

Sumber :