Sabtu, 20 Desember 2014

News / Regional

Tidak Dapat Pasokan, Pengecer BBM Tutup Usaha

Jumat, 23 Mei 2008 | 17:58 WIB

BREBES, JUMAT  - Sejumlah pengecer premium dan solar di Kabupaten Brebes terpaksa menutup usaha karena mereka tidak mendapatkan pasokan. Hal itu terjadi setelah semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menolak melayani pembelian BBM dengan jeriken maupun drum. Agar dapat kembali berjualan, mereka berbondong-bondong meminta rekomendasi ke Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Brebes.

Dari pengamatan di wilayah Kecamatan Brebes dan Jatibarang, Kabupaten Brebes, hampir tidak lagi ditemukan pengecer maupun POM bensin mini yang beroperasi. Lebih dari 10 kios bensin yang ada di pinggir jalan ditutup oleh pemiliknya. Botol atau jeriken kosong yang biasa digunakan untuk berjualan premium juga tidak nampak di sana.

Mashuri (44), pengecer premium dan solar di Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo, Brebes saat ditemui di kantor Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Brebes mengaku sudah tidak berjualan sejak empat hari lalu. Pasalnya, ia ti dak bisa memperoleh pasokan dari SPBU.

Selama ini, ia menghabiskan sekitar 60 liter premium dan 30 liter solar per hari. Menjelang kenaikan harga BBM, sejumlah SPBU langganannya tidak lagi bersedia melayani pembelian premium dan solar dengan jerigen. Akibatnya, ia tidak memiliki barang dagangan yang dapat dijual.

Ia sempat diminta mengurus surat keterangan ke kantor kecamatan dan polsek setempat. Namun setelah diperoleh, surat itu tidak berlaku. Akhirnya, ia meminta surat rekomendasi ke Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan. Ia berharap bisa memperoleh pasokan premium dan solar, dengan menggunakan surat tersebut.

Taufik (35), pengecer premium lainnya di Desa Banjarharjo mengaku tidak berjualan sejak tiga hari lalu. Pasalnya, sejumlah SPBU langganannya tidak lagi bersedia melayani pembelian premium atau solar dengan jeriken. Padahal, satu-satunya wadah yang dimilik inya untuk mengangkut premium atau solar hanya lah jeriken.

Akibat sedikitnya persediaan premium di pengecer, harga premium eceran menjadi sangat mahal. Sejumlah pengecer mematok harga premium Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per liter. Taufik mengaku terakhir kali menjual premium Rp 5.500 per liter.

Tarsinah (44), pemilik POM bensin mini di Desa Pemaron, Kecamatan Brebes mengaku tidak berjualan sejak Senin lalu. Pasalnya sejak hari itu, ia tidak mendapatkan pasokan dari SPBU. Selama ini, ia menghabiskan sekitar 300 liter premium dan 100 liter solar p er hari.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Brebes, Iskandar mengatakan, pemberian surat rekomendasi dilakukan sejak Kamis lalu. Hal itu sesuai dengan surat edaran dari Pertamina.

Menurut dia, pemberian surat rekomendasi dimaksudkan untuk membantu pemilik usaha kecil mendapatkan premium maupun solar. Untuk mendapatkan rekomendasi, mereka harus membawa surat keterangan dari kepala desa setempat.

Besarnya premium atau solar yang direkomendasikan, disesuaikan dengan skala usaha yang ada dalam surat keterangan tersebut. Hingga Jumat siang, pemilik usaha kecil dan menengah yang sudah mengajukan surat rekomendasi sebanyak 60 orang.


Editor :