Sejumlah pengusaha furnitur mengeluh karena harga bahan baku terus naik. Di sisi lain, tingkat penjualan produk furnitur terus menurun seiring dengan menurunnya daya beli masyarakat. Arief Bayu W, pengusaha furnitur asal Kudus, menuturkan, dalam sebulan biasanya ia bisa menjual 30 set kursi. Namun, kini maksimal ia hanya bisa menjual 20-an set kursi.
"Permintaan masyarakat terhadap jenis furnitur untuk indoor menurun hingga 25 persen," ujarnya, Selasa (20/5), saat ditemui di Pameran Furnitur, Java Mall, Kota Semarang. Selain memproduksi aneka jenis kursi dan tempat tidur, Arief juga membuat gebyog, rumah ukir adat Kudus dan joglo. Semua produknya memakai kayu jati sebagai bahan baku.
Untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku, Arief pun menurunkan kualitas bahan yang dipakai. Jika biasanya ia memakai kayu jati kualitas satu dan dua, kini untuk pasar lokal ia memakai kayu jati kualitas tiga dan empat. Hal itu bertujuan agar harga furnitur tidak melonjak terlalu tinggi sehingga sulit dijangkau masyarakat. "Namun,
penjualan tetap menurun," katanya.
Melihat kondisi sekarang, Arief mengaku khawatir terhadap rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). "Tingkat penjualan produk-produk furnitur pasti akan semakin menurun karena beban masyarakat semakin berat," katanya.
Linda, pengusaha furnitur dari Jepara, juga menuturkan hal serupa. Saat ini, tingkat penjualannya, baik untuk pasar ekspor maupun lokal, turun hingga 30 persen. Jika biasanya ia bisa menjual produk berupa meja, kursi, almari, hingga hiasan rumah sebanyak lima kontainer, kini ia hanya bisa menjual sebanyak dua kontainer. Selain akibat penurunan daya beli masyarakat, menurutnya, penurunan itu juga terjadi karena produknya kalah bersaing dengan produk dari China.
"Kalau kualitas sebenarnya kami bisa bersaing. Namun, harga produk dari China biasanya lebih murah, selain itu model produk dari Indonesia sering ketinggalan tren," katanya. (A09)

