Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:44 WIB
Dua Tokoh Kritis Meninggal Tepat 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Tri Wahono | Selasa, 20 Mei 2008 | 20:35 WIB
|
Share:
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin saat memberikan orasinya sebagai salah satu dari tiga penerima anugerah pena emas dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Wisma Antara, Jakarta, Kamis (15/4/2004).
Foto:

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - Indonesia kehilangan dua tokoh nasional yang kritis meski di usia tuanya tepat 100 tahun Kebangkitan Nasional. Ali Sadikin meninggal di Singapura sekitar pukul 17.30 WIB dan SK Trimurti di RSPAD Gatot Subroto pukul 18.30 WIB. Ali Sadikin wafat di usia 82 tahun sedangkan SK Trimurti pada usia 96 tahun.

Ali Sadikin lahir di Sumedang, Jawa Barat 7 Juli 1927. Ia menjabat Gubernur DKI Jakarta dari tahun 1966 hingga 1977. Ia menjadi Gubernur DKI Jakarta ke-7 menggantikan Soemarmo. Bang Ali kemudian diganti oleh Tjokropranolo.

Selama menjabat Gubernur, Ali Sadikin sangat berjasa membangun Ibukota Negara seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, dan sebagainya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, jujur, bersih, dan sederhana.  Ia juga pernah menjabat Deputi Kepala Staf TNI-AL dan  Menteri Perhubungan Laut.

Sementara Sk Trimurti yang memiliki nama lengkap Surastri Karma Trimurti lahir di Boyolali, Jawa Tengah tanggal 11 Mei tahun 1912. Ia adalah istri Mohammad Ibnu Sayuti atau dikenal sebagai Sayuti Melik, pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan RI.

SK Trimurti juga salah satu tokoh pers yang mendapat sebutan wartawan tiga zaman. Ia aktif menulis sejak zaman penjajahan Belanda, saat pemerintahan Orde Lama, dan Orde Baru.

Surastri diangkat sebagai Menteri Perburuhan di tengah perang  kemerdekaan, ketika Ibu Kota masih di Yogyakarta. Saat itu dia pemimpin Partai Buruh. Ia pernah menjabat Pengurus Besar (PB) Persatuan Marhaeini  Indonesia, PB Gerakan Rakyat Indonesia, PB Partai Buruh Indonesia dan  juga PB Gabungan Serikat Buruh Partikelir Indonesia.

Di masa perang kemerdekaan  anggota KNIP, di zaman Orla anggota Dewan Nasional, di zaman Orba anggota MPRS. Surastri juga pernah menjabat anggota Dewan Harian
Nasional Angkatan 45 dan juga terjun di Yayasan Tenaga Kerja Indonesia.

Ali Sadikin dan SK Trimurti juga sama-sama tokoh Petisi 50 yang aktif mengkritisi kebijakan pemerintah sejak zaman Orde Baru. Petisi 50 yang dicetuskan sejak tahun 1980 terus aktif memberikan kritik kepada pemerintah di masa reformasi sampai sekarang.