Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 12:24 WIB
Pemilih Masih Senang Yang "Loma"
Winarto Herusansono | Selasa, 20 Mei 2008 | 17:11 WIB
|
Share:

 SEMARANG, SELASA- Menyikapi pemilihan gubernur Jawa Tengah 2008, masyarakat kini beranggapan bahwa pemilihan gubernur secara langsung untuk kali pertama ini menarik. Perilaku pemilih masih terbagi antara pemilih konservatif dan pemilih rasional.

Demikian disampaikan peneliti dan pengamat politik Unit Pengembangan Penelitian Universitas Diponegoro (UPP-Undip) Semarang, Susilo Utomo, Selasa (20/5), ketika menjelaskan proses hasil studi UPP-Undip yang independen di Semarang.

Susilo Utomo mengatakan, hasil resume sementara survei juga menunjukkan adanya faktor lain pemilih dalam memilih pasangan cagub dan cawagub. Pemilih yang memilih pasangan cagub dan cawagub karena faktor psikologi model yang bertumpu pengalaman pemilih.

"Ada juga kelompok political marketing yakni pemilih yang memilih pasangan cagub dan cawagub mendasari kesan yang telah dibangun media. Hal ini terbukti pada pemilu 2004 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata dipilih masyarakat luas. Media telah berhasil membangun kesan dia sebagai figur yang tertindas, bisa memberikan harapan rakyat sehingga memunculkan simpati di masyarakat secara luas," kata Susilo Utomo.

Susilo menyatakan, dari tingkat pendidikan, pekerjaan, status di masyarakat, afiliasi parpol, jenis kelamin, dihubungkan dengan pengetahuan dengan pemilu kepala daerah. Dalam studi juga menelusuri siapa nama calon dan siapa pasangan calon sekarang, figur apa yang dianggap paling mampu dan berkualitas. Juga diteliti jabatan seperti apa yang cocok dengan gubernur dan wakil gubernur, apakah birokrat, PNS, dosen, TNI/Polri, atau guru atau LSM.

Koordinator UPP-Undip Semarang, Sunarto, menjelaskan, studi perilaku pemilih dalam pemilihan gubernur Jateng 2008 dilakukan di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Studi ini untuk mengetahui pemilih rasional.

Studi dilakukan menggunakan metode multistage random sampling (acak bertingkat) dengan jumlah sample 2.408 responden. Responden diambil secara acak di tiga wilayah Kota Semarang, Kabupaten Rembang, kemudian Kota Solo, Purworejo, Banyumas dan Kabupaten Pekalongan.

Hasil resume sementara, dikatakan Sunarto, sebenarnya amat mengejutkan karena pelaksanaan pilkada sejak era reformasi telah membentuk masyarakat pemilih pragmatis. Bila ada pasangan cagub yang dinilai selalu royal atau bahasa Jawa-nya, nyah-nyoh (suka memberi uang) nampaknya akan menjadi daya tarik pemilih untuk memilihnya.

Sebaliknya, masyarakat pemilih tidak tertarik calon yang terlalu banyak janji namun praktiknya selama kampanye dinilai pelit.