HANYA dua kemungkinan bila dua tim yang berasal dari liga yang sama bertarung di final Liga Champions? Pertama, menjemukan. Kedua, tidak seimbang. Rasa apriori seperti muncul mengingat duel serupa tahun 2000 antara Real Madrid melawan Valencia yang berkesudahan 3-0 untuk Madrid, dan partai AC Milan-Juventus yang berakhir dengan kemenangan Milan lewat adu pinalti setelah imbang 0-0.
Pertandingan Madrid melawan Valencia tidak seimbang, sementara partai Milan versus Juventus menjemukan. Akankah sindrom ini akan terjadi pada partai puncak Liga Champions tahun ini yang mempertemukan dua jawara Inggris, Manchester United melawan Chelsea? Jawabnya, mungkin ya, mungkin pula tidak. Mungkin saja menjemukan, karena kedua tim sudah saling mengenal karakter permainan dan mengetahui dimana kekuatan dan kelemahan. Kalau pertandingan tidak seimbang sepertinya sulit terjadi karena keduanya memiliki kualitas pemain dan permainan yang sama.
Chelsea bukanlah tim yang memainkan sepakbola menyerang atraktif, mereka adalah tim yang memainkan sepakbola efekfif. Kuasai bola selama mungkin lalu mencari celah untuk melancarkan serangan balik yang mematikan. Cara bermain ala Jose Mourinho masih tetap dipertahankan sang pelatih Avram Grant. Pola permainan ini konsisten dimainkan Chelsea dan dalam dua pertandingan semifinal melawan Liverpool, mereka mampu agregat 4-3
Sebaliknya, MU adalah kesebelasan yang kerap memainkan sepakbola menyerang. Namun, dua pertandingan semifinal saat melawan Barcelona, Sir Alex Ferguson sedikit mengubah gaya permainan. Di pertandingan pertama saat melawan Barca, Rio Ferdinand dkk ternyata tampil sangat defensif bahkan cenderung memainkan sistem pertahanan khas Italia, cattenaccio. Di pertandingan kedua, andai sapuan Gianluca Zambrotta tidak jatuh ke kaki Paul Scholes, partai MU-Barca akan berakhir imbang 0-0. MU memang menang agregat 1-0, tapi dalam dua pertandingan itu, kalah dalam hal penguasaan bola.
Melihat data dan fakta semifinal, Chelsea sedikit lebih baik. Didier Drogba lebih tajam dari Cristiano Ronaldo. Ronaldo tidak berkutik selama dua pertandingan terakhir menghadapi bek Barca Gianluca Zambrotta dan Eric Abidal. Jika kondisi seperti ini berlanjut hingga partai final, pola permainan menyerang ala MU dalam bahaya besar. Avram Grant sudah pasti akan menugaskan tiga pemainnya untuk mengawasi Ronaldo. Kalau CR7---sebutan Ronaldo---menusuk dari kiri, Michael Essien siap menghadang. Menyerang dari kanan, sudah ditunggu Ashley Cole. Masuk dari tengah akan berhadapan dengan Claude Makelele. Tevez dan Rooney pun mungkin bernasib sama, dikawal secara bergantian oleh John Terry dan Ricardo Carvalho.
Sir Alex Ferguson bukanlah pelatih sembarang. Dia tentu sudah menyiapkan skema permainan untuk mengantisipasi dimatikannya Ronaldo, Tevez, atau Rooney. Dia sudah berpengalaman berhadapan dengan tim setipe dengan Chelsea, yaitu Bayern Muenchen di final tahun 1999. Ketika itu, Sir Alex berani mengambil risiko dengan keluar menyerang sepanjang pertandingan dan terbukti akhirnya mampu menjadi juara. Sepertinya, filosofi seperti inilah yang akan disuguhkan untuk menembus pertahanan Chelsea. Kekuatan MU terletak kepada organisasi permainan yang rapi, kecepatan, serta pola permainan yang bervariasi.
Sebaliknya Avram Grant akan konsisten memainkan sepakbola efektif. Drogba akan ditempatkan sendirian di depan, sedangkan penyerang sayap Salomon Kalou dan Joe Cole akan lebih banyak membantu lini tengah. Chelsea akan sangat berbahaya bila permainan satu dua sentuhan Lampard-Ballack-Drogba tidak dapat diantisipasi bek MU. Kekuatan The Blues lainnya adalah tembakan jarak jauh dan tendangan sudut.
Tapi, lagi-lagi bila MU menjawab pola permainan man to man Chelsea dengan permainan defensif yang sama ketika dipertontonkan saat melawan Barcelona. Maka bersiaplah melihat pertandingan yang hanya berputar-putar di lini tengah saja. Jangan harap dapat menyaksikan atraksi atau kemampuan individu dari Ronaldo, Rooney, Ballack atau Drogba. Ulangan final tahun 2003 akan terjadi, dan tim dari Priemer League yang disebut sebagai liga sepakbola terbaik di dunia, tak mampu menyuguhkan sepakbola attraktif. Inggris tentu tidak ingin malu untuk kedua kalinya, setelah gagal lolos ke Piala Eropa 2008. Penggemar sepakbola tentu berharap munculnya kemungkinan ketiga dari pertandingan sesama tim Inggris ini, sepakbola menyerang dan menghibur. (ROY)

