Oleh wartawan Kompas, M Suprihadi
JAKARTA, SENIN - Sebuah lubang memanjang di tengah-tengah Jembatan Caman, Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat, nyaris menewaskan saya. Melalui lubang memanjang antarjembatan di atas Kalimalang atau Saluran Induk Tarum Barat itu saya tercebur ke kali yang dalamnya sekitar 2 meter. Selama 3 menit berikutnya, saya berjuang hidup mati di kedalaman Kalimalang.
Hari masih gelap ketika saya bersama rombongan meninggalkan rumah di Bintara, Bekasi Barat, dengan tujuan Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (18/5) sekitar pukul 04.35. Karena lalu lintas pada pagi itu masih sepi, saya tidak langsung masuk Tol Bintara, tetapi memilih lewat Cikunir, baru kemudian masuk lewat Tol Jatibening.
Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan pagi itu. Sepanjang jalan, saya mengobrol ger-geran dengan penumpang di mobil saya. Ketika melintas di Jalan KH Noer Alie atau Jalan Inspeksi Kalimalang menuju arah Jatibening pun semua berjalan baik-baik saja. Bahkan, ketika akan berbelok kiri ke Jalan Caman Raya pun tak ada hambatan.
Rupanya, saat berbelok masuk Jalan Caman Raya saya mengambil jalan terlalu ke kanan sehingga roda kanan depan mobil saya naik ke pembatas jalur yang merupakan bagian dari sisi kanan jembatan yang saya lalui hingga akhirnya mobil berhenti.
Tanpa melihat kondisi di bawah, saya langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Saya heran, kok kaki saya tidak segera menginjak aspal atau beton pembatas jalur. Malah tubuh saya yang berukuran ”XXL” itu malah terus meluncur ke bawah begitu cepat.
Sampai detik itu, saya belum sadar bahwa saya ternyata terperosok ke sungai. Yang saya rasakan hanyalah suasana sekitar begitu gelap. Tahu-tahu, kaki saya menyentuh air, makin dalam makin dalam, dan akhirnya seluruh tubuh saya terbenam di air.
Meski saya tak bisa berenang, secara refleks saya menggerak-gerakkan kaki dan tangan saya. Tetapi, tubuh saya masih terus meluncur masuk ke dalam air sampai kaki saya, yang masih lengkap bersepatu, menyentuh dasar sungai seperti pasir.
Saat itulah saya sadar bahwa saya tenggelam di Kalimalang. Saya terus berusaha untuk bertahan agar tidak tenggelam dengan terus menggerakkan tangan dan menjejak-jejakkan kaki sekenanya.
Rupanya usaha saya ini membuahkan hasil. Tubuh saya yang ekstra besar ini menyembul ke permukaan. Yang pertama saya lihat adalah gelagar beton jembatan, tetapi saya tak bisa meraihnya. Saya terus berusaha, tetapi saya hanya bisa timbul tenggelam. Entah berapa mililiter air Kalimalang, yang keruh dan kecoklatan itu terminum.
Sempat terpikir bahwa saya akan mati jika tak tertolong. Saya terus berusaha menggerakkan kaki dan tangan sekuat tenaga. Tubuh saya terus timbul tenggelam.
Pada suatu kesempatan, saya melihat kayu di bawah jembatan. Saya raih dan berhasil, tetapi kayu itu rupanya hanya papan tripleks rapuh yang segera patah. Saya kembali tenggelam.
Saya terus berusaha, dan tiba-tiba saya melihat satu rangkaian besi seperti BRC menggantung di ujung jembatan. Saya mencoba untuk meraih, tetapi tak berhasil.
Dari atas saya mulai mendengar suara orang minta agar saya menggapai besi itu. Saya terus berusaha meski masih timbul tenggelam.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, saya terus berusaha. Sampai pada upaya ketiga, saya berhasil meraih besi itu sambil berteriak dalam hati, ...Tuhan...! Saat itu tubuh saya masih terus timbul tenggelam sambil berpegangan besi.
Masih terdengar suara orang-orang berteriak agar saya memegang tangan orang itu. Saya terus berusaha tetapi itu tidak mudah. Tubuh saya masih timbul tenggelam karena arus di bawah terus mendorong tubuh saya.
Ketika pegangan tangan saya pada besi nyaris terlepas, seseorang meraih tangan saya yang satunya. Ia menarik tangan saya sekuat tenaga, tetapi gagal. Mungkin karena berat saya yang lebih dari 80 kilogram. Sementara itu, orang-orang terus berteriak agar tangan saya yang kiri meraih tangan mereka, tetapi itu pun rupanya tak mudah.
Ketika saya nyaris putus asa, tangan saya berhasil dipegang orang. Akan tetapi, mereka belum juga berhasil menarik saya yang masih timbul tenggelam di sungai. Sambil ditarik dari atas, saya terus berusaha mencari pijakan tebing sungai agar lebih ringan diangkat, tetapi rasanya sulit sekali.
Ketika akhirnya berhasil mendapat pijakan, saya menekan tanah itu sehingga orang-orang (entah berapa orang jumlahnya) berhasil mengangkat saya dari sungai. Puji Tuhan! Itulah kalimat pertama yang saya ucapkan.
Sudah sering
Erwin (29), salah seorang pengojek yang mangkal di dekat Jembatan Caman itu, menuturkan, lubang memanjang di Jembatan Caman sudah berulang kali memakan korban. Bahkan sekitar dua tahun lalu, seorang perempuan tua terperosok di lubang itu dan akhirnya hanyut di Kalimalang. Meskipun tubuhnya berhasil diangkat dari sungai, nyawa perempuan tua itu tidak tertolong.
Terkait dengan itu, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di DPRD Kota Bekasi, Sutriyono, mendesak Pemerintah Kota Bekasi segera mengambil langkah untuk menghindarkan jatuhnya korban berikutnya.

