Jumat, 1 Agustus 2014

News / Nasional

Dua Buku Sastra dari Indonesia-Malaysia Diluncurkan

Jumat, 16 Mei 2008 | 20:20 WIB

JAKARTA, JUMAT- Sastrawan dua negara serumpun, Indonesia dan Malaysia, kembali menunjukkan keakraban. Setelah membuat deklarasi bersama Maret 2008 lalu, sastrawan Indonesia dan Malaysia, Jumat (16/5), di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin meluncurkan dua buku sastra, yaitu kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia) dan Kumpulan Cerpen Perempuan Bergaun Putih, karya Sawali Tuhusetya (sastrawan Indonesia).

Peluncuran buku yang digelar Komunitas Sastra Indonesia, Komunitas Cerpen Indonesia, dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin itu sekaligus menggelar diskusi dan pembacaan puisi dalam bahasa Melayu dan Mandarin, pembacaan cerpen dan musikalisasi puisi.

Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia Ahmadun Yosi Herfanda ketika mengupas buku Kembali dari Dalam Diri mengatakan, jika didekati secara intertekstual, pemaknaan sajak-sajak Ghaffar (58) lebih kaya dan komprehensif. Tidak hanya membaca kegelisahan hati dan pencapaian estetik seorang penyair, tapi juga kegelisahan hati dan pencapaian estetik seorang penyair, tapi juga kegelisahan masyarakat Melayu sebagai sebuah komunitas politik, budaya, dan agama di tengah berbagai persoalan dunia dan persoalan etnisnya sendiri.

"Dalam pola-pola puitika yang bebas terkendali, Ghaffar cukup banyak menyorot berbgai persoalan dunia yang mampu melampaui batas-batas etnis, sehingga mampu berdialog dengan pembaca yang lebih luas," katanya.

Doktor Chew Fong Peng, ahli sastra Malaysia yang menerjemahkan puisi-puisi Ghaffar ke bahasa Mandarin mengatakan, dari 77 puisi lebih banyak bercerita tentang perang Irak, yang menimbulkan korban harta-benda dan nyawa. Yang menarik puisi "Kembara Anak Perang" dan "Peristiwa 11 September 2001" . Sedangkan Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia SM Zakir menilai buku Kembali dari Dalam Diri memberikan gambaran sejarah modern Malaysia dalam dua dekade terakhir.

Buku Kumpulan Cerpen Perempuan Bergaun Putih yang dibahas ahli sastra dari Universitas Indonesia Maman S Mahayana mengatakan, Sawali (44) berhasil mengeksploitasi sisi lain dari kultur Jawa dengan segala mitos, mitologi, sistem kepercayaan, dan dunia pewayangan yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Jawa.

"Antologi yang berisi 20 cerpen ini laksana serangkaian potret orang Jawa yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi yang kukuh mencengkeramnya. Maka, rasionalitas dan irasionalitas bisa menjadi peristiwa yang aneh mencekam-mengerikan, tetapi sekaligus juga menarik, bersahaja, dan kadangkala juga menciptakan kelucuan," ungkapnya.

Menurut Maman, dalam semangat multikulturalisme ketika bersepakat mengangkat keindonesiaan dalam keberagamannya, dalam keberbedaannya sebagai kekayaan kultural, maka langkag yang dilakukan Sawali sangat mungkin memberi kontribusi penting. Penting tidak hanya bagi pemerkayaan tema khasanah sastra Indonesia, tetapi juga penting sebagai pintu masuk memahami kultur keindonesiaan. Sementara sastrawan Kurniawan Effendi mengatakan, menilai cerpen-cerpen Sawali menarik untuk dibicarakan, karena banyak mengangkat persoalan rakyat kecil yang sering terabaikan.


Editor :