JAKARTA, RABU- PT Jasa Marga Tbk kini membangun tanggul laut di jalan tol Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno Hatta. Pembangunan tanggul ini untuk membendung gelombang pasang laut agar kejadian terputusnya akses tol akibat genangan air tidak terulang lagi. Ketika akses tol terputus, Kamis (8/5) lebih dari 150 penerbangan pun tertunda.
"Tanggul itu harus selesai dibangun dalam 21 hari. Sebab, diperkirakan gelombang pasang laut berikutnya akan menghantam pesisir utara pantai Jakarta pada Jumat (6/6)," kata Komisaris PT Jasa Marga Tbk Sumaryanto Widayatin, Rabu (14/5) di Jakarta, dalam penjelasan mengenai konstruksi Tol Bandara Soedyatmo.
Sumaryanto, yang juga Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum mengatakan, tanggul laut itu dibangun berketinggian empat meter di atas permukaan laut dengan panjang 600 meter. Lebar tanggul sekitar dua meter, yang diisi dengan tanah urugan dengan dinding tanggul terbuat dari beton.
Tanggul laut itu dibangun dari kilometer 26,200 hingga 26,800, tepat di sisi timur simpang susun (interchange) Penjaringan. Lokasi itu merupakan titik terendah dari penurunan konstruksi jalan tol Sedyatmo, yang dibangun dengan fondasi cakar ayam. Tol Sedyatmo berdasarkan penelitian memang sudah amblas kira-kira satu meter di titik-titik tertentu.
Tanggul laut itu, kata Sumaryanto, dibangun dengan tiang pancang atau pile slab berkedalaman delapan meter. Tiang pancang sedalam itu sangat penting karena struktur tanah di wilayah tol Sedyatmo merupakan tanah lumpur. Tiang pancang untuk peninggian tol bandara di kedua sisi, juga dirancang sedalam delapan meter.
Menurut Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga Tbk Okke Merlina, biaya untuk membangun tanggul laut itu sekitar Rp 40 miliar. Nantinya, tanggul laut bukan hanya dibangun di sisi utara tol, tetapi juga di sisi selatan tol untuk menanggulangi banjir kiriman dari kota Jakarta dan Tangerang.

