Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:58 WIB
Parpol Tempat untuk Memperkaya Diri
Inggried Dwiwedhaswary | Rabu, 14 Mei 2008 | 11:32 WIB
|
Share:

JAKARTA, RABU - Menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memiliki interaksi yang tinggi dengan partai politik membuat Abdul Hafiz Anshary mengamati berbagai fenomena seputar parpol.

Saat menjadi keynote speaker dalam Seminar tentang Hasil Survei Tata Kelola Organisasi Partai Politik di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (14/5), ia mengatakan parpol saat ini menjadi komoditi untuk memperkaya diri sendiri. "Saya menangkap kesan bahwa lembaga-lembaga politik termasuk parpol adalah komoditi untuk memperkaya diri sendiri. Parpol saat ini juga dijadikan lahan untuk mencari kerja, karena menggiurkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan atau tidak memiliki posisi di instansi pemerintah," ujar Hafiz.

Ketentuan perundang-undangan yang memberikan kelonggaran untuk membentuk parpol juga menyebabkan semakin suburnya 'lahan pekerjaan' di partai politik. Padahal, Hafiz menilai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik semakin menipis. Fenomena ini dilihatnya karena ada desakan yang kencang dari masyarakat kepada KPU untuk segera mengeluarkan aturan teknis bagi calon perseorangan.

"Pada Pilkada di salah satu daerah, ada lembaga independen yang mengancam, 50 persen pemilih di daerah itu tidak akan menggunakan hak pilihnya kalau KPU tidak segera mengatur tentang calon perseorangan. Alasannya, mereka katanya sudah tidak percaya dengan calon yang diusung partai," kata dia.

Namun, lanjut dia, tak bisa dipungkiri bahwa di Indonesia dominasi parpol masih sangat besar lantaran pemimpin yang diusung parpol akhirnya dikendalikan oleh kendaraan politiknya itu. "Jadi pilar utama demokrasi di Indonesia itu bukan pada pemerintah, tapi pada parpol. Parpol yang menentukan mau dibawa kemana bangsa ini. Tapi, kalau parpol sibuk dengan urusan internalnya, dan urusan memperkaya diri, kapan ngurus bangsa?," pungkas Hafiz. (ING)