SAMARINDA, SENIN- Satu hal yang jarang diperhatikan pemerintah adalah betapa warga miskin yang tinggal di tempat-tempat terlarang itu sangat ketakutan saat dirazia petuga Sauan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dan ketakutan itu bisa mewujud dalam berbagai sikap.
Salah satunya adalah sasaran operasi berusaha melarikan diri untuk menyelamatkan diri, meski cara yang ditempuhnya justru membawanya ke gerbang maut. Dan inilah yang diambil oleh Atmuni (50), warga asal Sumenep, Madura, yang tinggal di bantaran Kali Karangmumus, Samarinda, Kalimantan Timur.
Ceritanya, Kamis malam sekitar pukul 24.00 lalu, petugas Satpol PP melakukan razia dan penggerebekan di permukiman bantaran Kali Karangmumus. "Mereka langsung mendobrak pintu rumah kemudian berusaha menangkap kami. Karena ketakutan, suami saya mencoba turun ke sungai lewat lubang. Saya masih sempat menariknya (tapi tak berhasil). Saya lalu ditangkap Satpol PP dan dibawa keluar rumah," kata Muhaidah ((40), istri Atmuni ketika ditemui di Kepolisian Sektor Kota Samarinda Utara, Senin (12/5) siang tadi.
Muhaidah memang melaporkan kasus kematian suaminya ke Polsekta Samarinda Utara pada Minggu malam, setelah jenazah Atmuni ditemukan meninggal pada Sabtu pagi di Jembatan Ruhui Rahayu atau tiga kilometer dari rumahnya. Rupanya, ketika mencoba melarikan diri lewat lubang rumahnya itu Atmuni justru terpeleset lalu hanyut terbawa arus Karangmumus.
Masih cerita Muhaidah, ketika dibawa keluar rumah oleh petugas satpol PP, dirinya sempat berontak dan berteriak-teriak, sehingga berhasil kabur. Ketika ia kembali ke rumah, ia tak mendapati suaminya. "Uang Rp7 juta dan hanphone yang saya simpan di rumah (juga) sudah tidak ada. Rumah saya juga sudah berantakan diobrak-abrik petugas," katanya.
Empat mobil
Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian hingga menyebutkan, razia dilakukan petugas satpol PP Kota Samarinda di Jalan Kesehatan, RT 43, Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda Utara. Mengendarai empat mobil Satpol PP, puluhan petugas langsung menggerebek rumah warga.
"Beberapa rumah didobrak kemudian barang-barang dihamburkan," kata seorang warga bernama Ali, saat ditemui ANTARA, Senin.
Kedatangan Satpol PP Kota Samarinda itu sempat mengejutkan warga. Selain mengamankan beberapa warga yang dicurigai sebagai gelandang dan pengemis (gepeng), petugas juga sempat mengambil uang dan tiga unit HP milik warga yang diamankan tersebut. "Ada tujuh rumah rusak, serta barang-barang berantakan akibat diobra-abrik petugas," kata Ali.
Warga lainnya yang ditemui mengatakan sangat menyesalkan tindakan arogan Satpol PP Kota Samarinda itu. Mereka bahkan mengaku trauma dengan sikap petugas yang terkesan tidak manusiawi. "Satpol PP merusak dan menumpahkan beras yang ada di dalam rumah warga. Kalau mau menindak gepeng, harus di jalanan dan bukan seperti mau menangkap teroris," kata beberapa warga.
Hingga Senin malam, Kepala Kantor Satpol PP Kota Samarinda Abdul Haer belum bisa dikonfirmasi karena kedua telepon selularnya tidak aktif.

