KEDIRI, SENIN-Demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak terus bergulir di berbagai kota di tanah air. Di Kota Kediri, Jawa Timur aksi dilakukan oleh puluhan mahasiswa dari Universitas Islam Kediri dan Institut Agama Islam Tribakti Kediri.
Demo tolak kenaikan harga BBM itu awalnya berlangsung di bundaran Taman Sekartaji. Selain melakukan orasi dan aksi teatrikal yang menggambarkan kesengsaraan rakyat akibat kenaikan harga BBM yang berimbas pada naiknya harga kebutuhan pokok, mereka juga melakukan salat jenazah untuk mendoakan rakyat yang akan mati kelaparan.
Selanjutnya, puluhan mahasiswa melakukan long march sejauh dua kilometer menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kediri dengan mengusung sebuah keranda (peti mati). Kepada anggota DPRD Kota Kediri, mereka menyerahkan spanduk berisi tanda tangan rakyat yang menyatakan menolak kenaikan harga BBM. Tujuannya tidak lain adalah meminta wakil rakyat menyampaikan tuntutan itu kepada pemerintah pusat.
"Seluruh mahasiswa mengutuk kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. APBN itu milik rakyat bukan milik pejabat atau penguasa apalagi pengusaha. Maka kembalikan uang itu kepada kami. BBM naik rakyat makin menjerit," ujar Samsul Bachri koordinator lapangan.
Ilmi Mubarok, mahasiswa lainnya menambahkan pihaknya siap menghimpun kekuatan lebih besar seperti pada saat demonstrasi menuntut reformasi pada tahun 1998 apabila pemerintah tetap menaikkan harga BBM.
Aksi mahasiswa itu membuat beberapa anggota DP RD Kota Kediri keluar kantor. Wakil Ketua DPRD Kota Kediri Arifin Asror dan Ketua Komisi A Heru Anshori menyatakan bahwa pihaknya juga menolak kenaikan harga BBM karena dampaknya jauh luar biasa dibanding manfaatnya.
Sebagai wakil rakyat di tingkat paling bawah mereka siap mengirimkan surat kepada pemerintah pusat dan juga DPR RI yang berisi aspirasi masyarakat bawah meminta pembatalan kenaikan BBM.
Sementara itu, antrean panjang mewarnai sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Kali ini konsumen yang antre tidak lagi didominasi oleh kendaraan roda dua atau mobil melainkan para pedagang BBM eceran.
Di SPBU Jalan Raya Blitar tepatnya Kelurahan Dandong Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, antrean pembelian bensin menggunakan jerigen mencapai hampir satu kilometer. Antrean terjadi sejak pagi hari dan belum berakhir saat Kompas ke lokasi pada pukul 14.00.
Yulianto Ketua shiff SPBU mengatakan antrean pembeli BBM eceran terjadi karena adanya pembatasan pembelian. Satu pedagang hanya boleh membeli maksimal 30 liter. Itupun mereka harus membawa surat rekomendasi dari Kepala Desa setempat.
Sejauh pengamatan Kompas , isu akan naiknya harga BBM ternyata dimanfaatkan oleh warga masyarakat untuk menambah penghasilan. Banyak warga yang berubah profesi menjadi penjual ben si eceran. Harga bensin eceran pun naik menjadi Rp 5.500 per liter dari sebelumnya Rp 5.000 per liter.
Harga naik karena kami dapatnya susah, pake antre dan tidak boleh beli di sembarang SPBU. Kapan lagi rakyat kecil seperti kami bisa menikmati keuntungan kalau tidak sekarang, toh juga tidak banyak, ujar Wito salah satu pengecer di Desa Selokajang Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar.(NIK)

