JAKARTA, SENIN - Sekelompok massa yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Miskin Kota Jabodetabek, Serikat Becak Jakarta, dan Urban Poor Consortium, berdemonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak di depan Istana Merdeka Jakarta.
Rencananya, pemerintah akan menaikkan harga BBM pada akhir Mei atau awal Juni. Menurut mereka, menaikkan harga BBM bukanlah pilihan tepat. "Ini akan menjadikan rakyat miskin semakin terpuruk. Sebab, kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang lain," ujar Koordinator aksi, Edi Saidi, Senin (12/5).
Edi mengatakan, pemerintah harus mencari opsi lain, seperti menasionalisasi perusahaan minyak yang telah dikuasai asing. "Pemerintah seharusnya juga dapat menegoisasikan pengembalian utang ke negara-negara asing. Jangan sepertiganya, diubah jadi lebih sedikit untuk sementara," usulnya.
Selain itu, mereka juga menolak pemberian bantuan langsung tunai. BLT, lanjut mereka, justru menimbulkan masalah baru di tengah kungkungan kemiskinan masyarakat. BLT membuat masyarakat miskin bersifat lebih konsumtif. "Yang dibutuhkan pada saat ini ialah lapangan pekerjaan, bukan BLT. Itu tidak bermanfaat, tidak tepat sasaran karena rakyat miskin yang menerima BLT hanya sedikit. Lagi pula Rp 100.000 per bulan mana cukup. Oleh karena itu, batalkan kenaikan BBM," ujar Edi.
Dia menambahkan, ini merupakan aksi maraton selama 10 hari ke depan. Puncaknya, pada hari terakhir aksi, Rabu (21/5). Menurut dia, akan ada puluhan elemen yang ikut dalam aksi tersebut.

