Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:02 WIB
Pengembang Perumahan Cemas
Dahlia Irawati | Minggu, 11 Mei 2008 | 10:42 WIB
|
Share:

Pengembang perumahan di Kota Malang mulai cemas atas rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Pasalnya, kenaikan harga BBM pasti akan diikuti kenaikan harga komponen bangunan.

"Melihat rencana kenaikan harga BBM, tentu ada kekhawatiran tersendiri bagi pengembang. Jelas nanti harga rumah naik dan daya beli masyarakat turun. Bagaimana kemudian kelangsungan pengembang perumahan kalau masyarakat tidak mampu membeli rumah?" tutur Ketua Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Malang Gamma Bianrisadalam
acara Gathering Bank BTN Malang dengan REI Malang, Kamis (8/5) di Regent Park Hotel Malang.

Kenaikan harga BBM, menurut Gamma, secara umum akan menaikkan harga rumah minimal sebesar 10 persen. Kondisi ini tentu semakin mencekik para konsumen perumahan yang di lain pihak juga dibelit naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

"Sekarang saja harga BBM belum naik, namun harga-harga material seperti semen, pasir, dan sebagainya sudah naik 30 persen. Bagaimana pengembang tidak mulai khawatir?" ujar Gamma.

Naiknya harga BBM itu semakin menyulitkan pengembang. Pasalnya, mereka juga diharuskan membangun rumah sederhana sehat (RSH) bagi masyarakat berpenghasilan rendah. RSH itu pun dengan batasan harga Rp 55 juta setiap unitnya, naik dari sebelumnya Rp 49 juta per unit.

Padahal di Jatim, target RSH tahun ini sebanyak 20.000 rumah. "Target ini naik dari tahun 2007 yang hanya sebanyak 15.000 rumah. Di Kota Malang diperkirakan bisa dibangun sekitar 3.000 RSH," ujar Wakil Ketua Tim Percepatan RSH di Jatim Tri Wediyanto.

Menurut Tri, hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan pengembang dari kelesuan ini adalah memberikan subsidi RSH. "Dengan naiknya harga BBM, pemerintah harus meningkatkan subsidi," ujarnya.