JAKARTA, SABTU - Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang nantinya didapatkan dari kompensasi kenaikan harga BBM sebesar 30 persen dianggap motif politik pemerintah dan kebijakan suap politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar terpilih kembali 2009 mendatang.
Ini disampaikan oleh mantan menko ekonomi (2000-2001) dan menteri keuangan (2001) Rizal Ramli dalam Seminar Sehari Antisipasi Krisis Pangan Dunia dan Kontestasi Politik yang digelar Perhimpunan Indonesia Tionghoa di Mega Glodok Kemayoran Jakarta, Sabtu (10/5).
"Tahun ini SBY akan bagi-bagi uang sebesar Rp 17 triliun dan tahun depan Rp 52 triliun dalam bentuk BLT. BLT banyak yang tidak tepat sasaran. Orang miskin yang masih mampu bekerja diberi Rp 100.000 per bulan. Ini menyebabkan kemalasan bekerja," kata Rizal.
Menurut Rizal, golongan ini akan berutang budi politik terhadap SBY, sehingga mereka akan memilihnya menjadi presiden kembali pada Pilpres 2009. Selain itu, Rizal mengatakan, seharusnyaBLT hanya diberikan kepada orang sakit dan lanjut usia. "Jika dana ini digunakan untuk membangun infrastruktur pedesaan seperti irigasi sanitasi dan jalan-jalan desa yang sudah rusak akan lebih efektif, karena dapat menciptakan lapangan kerja baru, sehingga BLT tepat sasaran," kata Rizal.(C5-08)
