JAKARTA, KAMIS - Hari ini merupakan hari terakhir siswa-siswi SMP mengikuti ujian nasional. Namun, tragis bagi anak-anak di RT 19-20 RW 02 Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, karena tempat tinggal mereka dilanda banjir rob setinggi 20-80 cm.
Mereka harus belajar di tengah tingginya air pada malam hari. "Anak saya kalau belajar ya harus di tempat yang tinggi. Untung rumah saya sudah saya bangun lantai duanya sehabis banjir Desember lalu," ujar Mip Agus, ibu dari tiga anak, kepada Kompas.com, Kamis (8/5).
Menurut dia, anaknya terpaksa berangkat lebih pagi tanpa mandi terlebih dahulu. Sebab, ketinggian air pada pukul 06.00 masih sepinggang orang dewasa. Tak ayal, selain membawa buku, kartu ujian, dan alat tulis, mereka juga membawa peralatan mandi seperti handuk, sabun, sikat gigi, dan seragam sekolah.
Untuk mencapai sekolah, mereka harus menunggu truk yang kebetulan lewat di perempatan PT Koja, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah. "Anak saya sama temannya nunggu di perempatan situ (PT Koja) sama anak-anak lain. Nanti pakai truk di situ," tuturnya.
Mip mengungkapkan, sekolah memberikan kelonggaran waktu kepada anaknya. Meski telat, panitia pengawas masih memperbolehkan anaknya ikut ujian. Pegawai Tata Usaha Sekolah (SD, SMP, SMA) Yayasan Pendidikan Harapan, Salehudin Ahmad MS, menuturkan, pihak sekolah biasanya mendapat laporan dari panitia pengawas. Setelah itu barulah pihak sekolah mencari keberadaan sang anak.
"Kita bayar orang untuk mencari anak tersebut. Kalau tidak, takutnya dia tidak ikut ujian hanya untuk main. Kalau dia memang terlambat dalam perjalanan akan diberi kelonggaran. Kebetulan kami belum terakreditasi, jadi anak-anak tesnya di SMP 21 Penjaringan Jakarta Utara. Jadi tidak terlalu pusing memikirkan kenyamanan anak," ujarnya.(BOB)
