Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 10:02 WIB
BBM Naik, Nelayan Akan Semakin Tercekik
Madina Nusrat | Selasa, 6 Mei 2008 | 18:52 WIB
|
Share:

 

BANYUMAS, SELASA - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak disambut pesimistis oleh kalangan nelayan Cilacap. Dengan harga BBM yang cukup mahal seperti sekarang saja, mereka mengaku, sudah tak sanggup menanggungnya.

Menurut Maryadi (38), nelayan Desa Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, kalau sampai harga BBM naik lagi sama saja akan membunuh nelayan. "Sekarang saja, kami sudah tercekik dengan harga BBM yang mahal. Apalagi kalau harga BBM naik lagi, saya tidak tahu akan menjadi apa, " tuturnya.

Untuk satu kali melaut, Maryadi mengaku, menghabiskan uang sampai Rp 45.000 untuk membeli 10 liter bensin. Dengan bahan bakar sebanyak itu, kapalnya hanya mampu melaut di sekitar pantai Cilacap dan pantai Nusakambangan. Itu pun kalau beruntung dapat ikan. "Kalau tidak, yang dibawa hanya tangan kosong, " ujarnya.

Lain lagi nelayan perahu compreng yang menggunakan mesin diesel, secara terbuka mereka mengatakan tak lagi menggunakan solar murni, melainkan dicampur dengan minyak tanah bersubsidi yang harganya masih terjangkau Rp 2.500 per liter. Bahkan Purwanto (34), nelayan dari Desa Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, mengaku, beberapa hari lalu karena tak punya uang yang cukup menyebabkan mesin kapalnya hanya diberi minyak tanah.

Waktu itu, saya cuma punya uang Rp 50.000. Harga minyak tanah kan cuma Rp 2.500 per liter, sehingga saya masih bisa dapat 20 liter. "Sisa uang yang ada, saya belikan perbekalan untuk melaut," tuturnya.

Bagi kalangan pengusaha di sektor pertanian, rencana kenaikan BBM akan mengancam keberlangsungan industri pertanian, seperti penggilingan padi. Kalau solar sampai naik, semua suku cadang mesin penggiling padi juga akan ikut naik. "Pengusaha penggilingan padi pasti akan semakin menjerit, " kata Ketua Persatuan Penggilingan Padi Banyumas Wahyudi.

Dampak yang lebih luas lagi, lanjutnya, kenaikan BBM akan menyebabkan biaya produksi penggilingan padi bertambah dan dengan sendirinya harga beras juga akan bertambah mahal. Kalau suku cadang mesin penggilingan padinya tidak naik sih, tarif menggiling padi masih bisa ditekan. "Tapi kalau harga suku cadang juga ikut naik, pasti harga beras akan naik lagi, " tuturnya.