PALANGKARAYA, SELASA-Kabar meninggalnya Chris Bernard, praja asal Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi (pemprov) setempat. Kemarin pagi, pejabat dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) diberangkatkan untuk meminta informasi masalah itu sekaligus membantu pemulangan jenazah ke Palangkaraya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalteng, Thampunah Sinseng menyatakan pihaknya turut berduka dan prihatin atas musibah tersebut. Pihaknya berharap meninggalnya Chris disebabkan hal yang wajar, bukan akibat kekerasan seperti yang diduga banyak pihak.
"BKD menerima informasi dari pengasuhnya di IPDN. Kita cukup prihatin, tapi mudah-mudahan normal saja," katanya.
Ditanya apakah pemprov akan membawa masalah ini ke jalur hukum, Thampunah buru-buru menyanggahnya. Menurutnya saat ini belum ada informasi yang menyebutkan bahwa Chris meninggal akibat tindak kekerasan.
"Saat meninggal, orangtua yang bersangkutan juga ada di sana. Tapi kita akan minta penjelasan. Soal proses hukum, nanti dulu karena kita belum tahu masalahnya seperti apa. Karena informasi yang kita terima bahwa dia ada sakit di bagian perut. Harapan kita ini normal saja, tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Tapi kalau memang terjadi
diluar kebiasaan, ya memang dibawa ke jalur hukum," katanya.
Thampunah menjelaskan, Kalteng sudah tidak lagi mengirim praja ke IPDN sejak 2007 lalu. Sedangkan untuk biaya pendidikan praja yang sedang menuntut ilmu di kampus calon pejabat itu, pemerintah daerah memberi subsidi sekitar Rp15 juta untuk setiap praja per
tahunnya.
Menurut informasi, jumlah praja asal Kalteng di IPDN saat ini sebanyak 140 orang yang berasal dari 14 kabupaten/kota setempat. Setiap tahunnya Kalteng mengirim 30 sampai 42 orang praja dengan alokasi masing-masing tiga orang untuk setiap kabupaten/kota. Sedangkan jumlah praja yang sudah lulus diperkirakan mencapai 100 orang. (Banjamasin Post/Norjani)

