Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 22:21 WIB
Pengakuan Keluarga dan Pacar Praja Chris Bernard
| Selasa, 6 Mei 2008 | 01:07 WIB
|
Share:

Suasana duka terasa di rumah Chris Bernard (22) di Jl Anggrek Nomor 57 Palangkaraya. Tampak kesibukan di rumah bercat putih itu. Pihak keluarga dan tetangga terlihat mendirikan dua tenda besar di depan rumah duka.

Kabar meninggalnya praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor itu membuat pihak keluarga kaget. Apalagi kematian bungsu dari dua bersaudara pasangan Urbanus Siram dan Dewi Ambon Tumon itu disebutkan akibat over dosis alkohol.

Yuliete Tumon, saudara ibu almarhum yang ditemui di rumah duka menyebutkan almarhum perangainya baik. Karena itu pihak keluarga meragukan informasi yang menyebutkan praja yang akan diwisuda 6 Juni nanti itu meninggal akibat mabuk-mabukan bahkan sampai over dosis. Dia justru curiga hal lain menjadi penyebab meninggalnya praja kelahiran 22 Desember 1986 yang oleh keluarganya sering dipanggil Angga itu. Pasalnya, kata dia, almarhum belakangan sering mengeluh sakit di bagian dada, bahu dan tulang belakang.

"Dia memang tidak pernah cerita kepada orangtuanya, tapi dia mengeluh sakit pada teman dekatnya. Kami tidak menuding itu akibat kekerasan karena belum ada hasil pemeriksaan. Tapi kalau itu benar terjadi, kami berharap aparat mengusutnya, " katanya.

Yuliete juga menyesalkan sikap tertutup pihak IPDN dalam kasus tersebut. Kedua orangtua korban langsung berangkat ke Bandung setelah dikabari bahwa Chris masuk rumah sakit. Saat itu pihak IPDN tidak menyebutkan apa penyakit yang diderita serta bagaimana kondisi almarhum.

"Orangtuanya terbang Minggu siang setelah dikabari bahwa Angga masuk rumah sakit. Padahal saat itu ternyata sudah koma," sambungnya seraya mengatakan rencananya jenazah Chris Bernard akan dibawa ke Palangkaraya pada Selasa(6/5) pagi.

Perasaan duka juga terlihat jelas di wajah Riana Oktarini, kekasih almarhum Chris Bernard. Dengan berlinang air mata, gadis yang kerap disapa Ririn ini mengaku tidak percaya lelaki yang menjadi pacarnya sejak duduk di kelas 3 SMA 1 Jekan Raya (dulu SMAN 3 Palangkaraya) itu tewas karena over dosis.

"Terakhir dia menelpon Selasa jam 11 malam lalu. Dia cerita baru pulang dari bioskop dan makan-makan. Dia mengaku sehat- sehat saja. Dia memang bisa minum, tapi tidak pernah sampai mabuk. Saya tidak percaya dia over dosis karena saya tahu bagaimana dia," ujarnya mencoba tetap tabah.

Ririn mengakui Chris sering mengeluh padanya soal sesak napas, sakit tulang bahu dan belakang yang dideritanya, termasuk saat pulang ke Palangkaraya 31 Januari lalu. Namun Chris tidak menyebut apa penyebabnya, bahkan dia selalu menolak ketika diajak memeriksakan ke dokter.

"Katanya nanti saja setelah lulus. Dia juga tidak mau cerita kepada orangtuanya karena tidak ingin jadi beban pikiran, makanya dia pura-pura sehat. Kadang dia susah bernapas, lalu dia urut sendiri dadanya," katanya.

Ririn mengaku hubungannya dengan Chris sudah cukup serius dan sudah direstui keluarga masing-masing. Bahkan saat ini padahal dia sedang bersiap untuk mendampingi sang pacar saat wisuda 6 Juni nanti. "Dia menelpon terus agar saya datang saat wisuda dia. Katanya dia juga mau mengajak saya jalan-jalan, " kenangnya sendu.

Ditanya apa harapannya terhadap masalah ini, Ririn tampak pesimis. Dia hanya meminta agar semua ada kejelasan. "Dari kasus-kasus yang ada saja tidak jelas seperti apa ujungnya," timpal Ririn yang kemarin siang juga bertolak ke Jakarta untuk menjemput jenazah Chris Bernard.(Banjarmasin Post/Mgb)

Sumber :
Banjarmasin Post