MOSCOW, KAMIS - Selama 90 tahun setelah para algojo Bolshewik menembak mati Tsar Nicholas II dan keluarganya, tidak ada jejak jenazah Putra Mahkota Alexei bagi kekaisaran Rusia.
Sebagian orang mengatakan remaja 13 tahun itu berhasil meloloskan diri, dan sebagian lain mengatakan tulang belulangnya ditanam di tempat rahasia karena ada kekhawatiran bahwa kekacauan di negara itu berujung pada perang saudara.
Sekarang, seorang pejabat mengatakan tes DNA berhasil mengungkap misteri itu dan memastikan tulang belulang Alexei ditemukan di sebuah hutan bersama milik saudara perempuannya, Putri Maria.
Eduard Rossel, gubernur kawasan yang terletak 900 mil timur Moskow itu, mengatakan bahwa sebuah lab di AS mengidentifikasi belulang itu adalah sisa jasad Alexei dan Maria. "Bukti ini membenarkan tulang belulang itu milik mereka. Sekarang kami telah menemukan seluruh keluarga. Lab di AS mengonfirmasi penemuan di lab kita," kata Rossel.
Ia tidak menyebut nama lab itu. Namun diketahui sebuah tim penelitian genetik dari University of Massachusetts Medical School terlibat dalam proses ini.
Evgeny Rogaev, ketua tim penguji tulang belulang di Moskow dan Worcester Massachussetts AS, telah dipanggil Kantor Federasi Jaksa Rusia untuk terjun dalam penelitian ini. Ia mengaku telah menyerahkan hasil penelitian itu pemerintah Rusia dan terserah pada kantor jaksa untuk mengumumkan hasil itu atau tidak.
"Tugas paling sulit sudah diselesaikan dan kami telah menyerahkan hasilnya kepada analis ahli. Kami ingin menyusun penyelidikan selengkap mungkin secara ilmiah," katanya.
Sedangkan jenazah orangtuanya, Tsar Nicholas II dan Tsarina Alexandra serta tiga saudara kandungnya, termasuk yang termuda Anastasia digali pada 1991, lalu dikuburkan lagi di kompleks permakaman kerajaan di St Petersburg. Tujuh orang itu, oleh Gereja Ortodoks Rusia dinyatakan sebagai orang suci pada 2000.
Penemuan kerangka pada 1991 berikut upacara-upacara yang mengikutinya yang tanpa disertai jenazah Alexei dan Maria masih mengganjal bagi keturunan dinasti Romanov, pemerhati sejarah dan kalangan bangsawan.
Namun pengumuman Rabu (30/4) yang sudah dikonfirmasi dan diterima secara luas itu belum cukup melegakan bagi mereka. Banyak keturunan kerajaan masih menginginkan rehabilitasi penuh dari pemerintah.
"Tragedi keluarga tsar hanya akan berakhir bila keluarga itu dinyatakan sebagai korban penekanan politik," kata German Lukyanov, pengacara untuk para keturunan keluarga kerajaan.
Nicholas diturunkan dari tahta pada 1917 ketika revolusi menyapu seluruh Rusia, lalu ia dan keluarganya ditahan. Mereka ditembak oleh satu regu algojo di ruang bawah tanah sebuah rumah tempat mereka ditahan pada 17 Juli 1918.
Rumor yang berkembang menyebutkan, sebagian dari keluarga itu selamat. Kemudian muncul sejumlah perempuan yang mengaku sebagai Anastasia, begitu juga dengan Alexei dan Maria.
"Kemungkinannya 99,9 persen jelas mereka dibunuh, sekarang dengan penemuan ini menjadi 100 persen. Yang kecewa dengan berita ini adalah mereka yang suka mitos keluarga bangsawan itu terus hidup," kata Nadia Kizenko, seorang peneliti di University at Albany, State University of New York.
Di antara anggota keluarga tsar, Alexei paling menonjol dan menarik simpati karena ia menderita hemofilia. Teror dari sang ibu atas penyakit itu dan kekhawatiran ia tidak akan bertahan untuk mencapai takhta telah membuat sang ratu jatuh ke pelukan Rasputin. Pria yang konon piawai menghipnotis dan jagoan di ranjang ini berpengaruh besar pada keluarga tsar.
Para peneliti menggali sisa belulang itu musim panas tahun lalu di sebuah hutan dekat Yekaterinburg, tempat keluarga itu terbunuh. Lalu meneliti DNAnya di sejumlah lab di Rusia dan AS.
Para peneliti membandingkan DNA dari tulang belulang itu dengan milik Ratu Alexandra yang merupakan cucu Ratu Victoria dari Inggris, sekaligus saudara jauh Pangeran Philip, suami Ratu Inggris Elizabeth II.
Belum jelas apakah Gereja Ortodoks Rusia akan mengakui keaslian tulang itu. Hingga kini pihak gereja belum memberikan pernyataan. Belum jelas juga apakah keturunan keluarga kerajaan juga akan menerima temuan itu. Lukyanov mengaku belum menerima konfirmasi itu begitu juga dengan kliennya.
Upaya Lukyanov untuk mendapatkan pengakuan negara bahwa keluarga itu menjadi korban represi politik berkali-kali ditolak pengadilan. Alasannya, pembunuhan itu sudah direncanakan, bukan aksi balas dendam politik. Ia mengatakan Rusia harus mampu mengatasi masa lalu yang berdarah-darah.
"Mereka mengatakan, selama jenazah prajurit terakhir belum dikubur, perang harus berlanjut. Jadi karena korban terakhir teror Bolshewik dan rezim komunis belum direhabilitasi, penindasan tidak berhenti," katanya.

