Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 21:07 WIB
30.000 Buruh Akan Turun ke Jalan
| Rabu, 30 April 2008 | 08:09 WIB
|
Share:

KOMPAS/ILHAM KHOIRI
Ratusan buruh yang tergabung dalam Komite Aksi Mei Bersatu (KAMB) dan Aliansi Rakyat untuk May Day (Arum) 2006 berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Sedunia di Palembang, Sumatera Selatan, Senin 1 Mei 2006. Mereka menolak segala bentuk kebijakan dan perundang-undangan yang menindas buruh, seperti revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

TERKAIT:

JAKARTA, RABU - Peringatan Hari Buruh atau lebih dikenal dengan May Day dipastikan akan dimeriahkan 30.000 buruh yang akan melakukan aksi turun ke jalan. Selain Ibu Kota Jakarta yang akan menjadi pusat aksi, 23 kota lainnya juga dipastikan akan menjadi ajang perayaan kaum buruh di Indonesia.

Selain Ibu Kota, beberapa kota lain yang akan digoyang oleh buruh, antara lain Bandung dan Kota Garut. Kemudian akan dipusatkan juga di Kota Purwokerto, Wonosobo, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, Malang, dan Jombang. Untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi akan dilakukan di Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Palu, Bulukumba, Donggala, dan Kota Kendari.

"Sasaran aksi para buruh adalah pusat-pusat kekuasaan dan seluruh badan pemerintahan di semua tingkatan. Istana Negara di Ibu Kota Jakarta sampai kantor gubernur dan kantor bupati di beberapa kota akan menjadi pusat Hari Buruh nanti," ujar koordinator Front Perjuangan Rakyat (FPR), Rudy HB Daman di Jakarta.

"Khusus untuk Jakarta, aksi akan dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia pada pukul 09.00 dan berlanjut ke  depan Istana. Di depan Istana Negara, FPR juga akan melakukan aksi bersama  dengan berbagai elemen lain, di antaranya Aliansi Buruh Menggugat (ABM). Tuntutannya  adalah meminta rezim SBY-JK memenuhi tuntutan kaum buruh dan rakyat tertindas," kata Rudy.

Peringatan May Day dari ribuan buruh kali ini  juga akan menjadi ajang tuntutan kepada pemerintah untuk menaikkan upah buruh berdasar kebutuhan hidup layak, termasuk buruh tani dan pekerja pertanian di pedesaan serta golongan pekerja rendahan lainnya. "May Day kali ini juga akan menuntut penghapusan sistem kerja kontrak serta outsourching. Termasuk pula,  menuntut penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam bentuk apa pun," ujar Rudi seraya menyatakan, pihaknya juga menuntut dijadikannya 1 Mei sebagai Hari Buruh dan libur nasional.

Rudy menambahkan, FPR dalam aksi nanti juga turut meminta dihentikannya kriminalisasi terhadap buruh dan aktivis buruh serta kaum tani. "Bebaskan tanpa syarat kaum tani dan rakyat lainnya yang ditahan. Hentikan segera segala bentuk intimidasi serta teror terhadap seluruh rakyat yang berjuang untuk menuntut hak sosial ekonominya serta hak-hak sipil demokratisnya," tegasnya.(Persda Network/Rachmat Hidayat)