KEDIRI, SELASA - Jumlah warga atau anggota masyarakat yang dinyatakan positif terinfeksi virus HIV dan menderita penyakit AIDS meningkat tajam pada tahun ini. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat penularan penyakit AIDS dapat terjadi dengan mudah.
Pelaksana teknis Kasi Pemberantasan Penyakit Sub Dinas Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Nur Munawaroh mengatakan dalam empat bulan terakhir sudah ada 14 penderita positif terinfeksi HIV.
Padahal, pada tahun 2007 lalu, selama setahun hanya dilaporkan 23 penderita AIDS di Kabupaten Kediri. Peningkatan ini tentunya sangat mengejutkan akan tetapi diharapkan juga berdampak positif, ujarnya, Selasa (29/4) di Kediri.
Total jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kediri yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir mencapai 61 orang, dimana sebanyak 14 diantaranya meninggal dunia dan sebanyak delapan orang diantaranya tidak terpantau oleh Dinas Kesehatan ataupun pihak rumah sakit.
Menurut Nur, jumlah penderita HIV/AIDS di Kediri yang belum melapor atau ditemukan masih banyak. Hal itu didasarkan pada banyaknya warga atau masyarakat yang berperilaku berisiko tinggi terhadap penyakit ini.
Diantaranya, para pekerja seks komersial yang tinggal di lokalisasi ataupun yang bekerja secara perorangan di luar kompleks. Selain itu, aktivitas para kaum gay juga termasuk memiliki resiko tinggi.
Itu belum ditambah oleh para pemakai narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian. Risiko terjadinya penularan HIV/AIDS diantaranya mereka jauh lebih tinggi.
Analisa itu diperkuat oleh temuan di lapangan. Dari total 61 penderita yang ditemukan, sebanyak 23 diantaranya merupakan pekerja seks komersial. Sebanyak empat penderita diantaranya adalah ibu rumah tangga yang terinfeksi dari suami mereka. Sisanya, sopir dan wiraswasta.
Untuk mencairkan fenomena gunung es penderita HIV/AIDS di Kediri, Dinkes bersama Rumah Sakit Umum Daerah Pare mendesak pembangunan Klinik Visite. Klinik ini tidak hanya menyediakan pemeriksaan dan perawatan terhadap penderita akan tetapi juga konsultasi dan terapi bagi mereka yang bersemangat hidup tinggi. Serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko tinggi.
Akan tetapi klinik yang dimotori oleh 13 tenaga medis baik dokter, perawat dan farmasi ini masih belum bisa memberikan pelayanan maksimal saat ini karena belum selesai pembangunanya. Kendati demikian, di Klinik Visite sekarang ini sudah ada dua pasien yang dirawat.
Bagi penderita, Dinkes memberikan pengobatan dan biaya perawatan gratis. Mereka juga akan terus dimonitor oleh tim khusus yang dibantu lembaga swadaya masyarakat. Tujuannya selain memastikan penderita mengkonsumsi obat dan menjalani perawatan dengan benar, juga untuk mencegah penularan kepada orang lain.

