Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 15:26 WIB
Ulat Sutra, Uluran Tangan dari "Saudara Tua"
| Selasa, 29 April 2008 | 08:51 WIB
|
Share:

KOMPAS/HARYO DAMARDONO
Kokon ulat sutra liar berwarna keemasan ini dihasilkan oleh ulat sutra spesies Cricula triphenestrata. Spesies ini merupakan satu-satunya spesies ulat sutra liar di dunia yang menghasilkan benang berwarna emas. Hutan Karang Tengah di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, kini menjadi perhatian wisatawan dari Jepang yang dikoordinasi oleh Garuda Indonesia menyumbangkan dana untuk penghijauan kawasan itu.

 "Lihat, kokon ulat sutra ini berwarna keemasan. Kami menanam pohon tidak hanya agar ulat hidup, tetapi juga agar hidup kami membaik," tutur Sabar. Siang itu, warga Karang Tengah, Imogiri, Kabupaten Bantul, ini memandu orang-orang dari Keraton Yogya, pemda, dan penumpang Garuda Indonesia rute Jepang menyusuri hutan desanya.

Hutan Desa Karang Tengah berjarak 15 kilometer arah tenggara Kota Yogyakarta, atau 2 km dari pemakaman raja-raja Jawa Imogiri, yang dibangun Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1645. Topografinya berbukit-bukit dan bukit Imogiri menjadi pusatnya.

Sabar mengajak tamunya berkeliling, memamerkan reboisasi di hutan itu yang akan mengubah lahan kritis menjadi hutan budidaya ulat sutra. Sesekali, ia memperlihatkan ulat-ulat sutra yang hidup di pohon jambu mete, alpukat, sirsak, mahoni, dadap, dan keben.

Sabar, yang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan sepatu laras, selalu mengawali jawaban dengan kata ”siap!” bila mendapat pertanyaan. Sikapnya lebih mirip anggota paramiliter daripada abdi dalem keraton. Lahan yang dipijaknya saat itu merupakan Sultan Ground, atau lahan milik Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Kehidupan Sabar, seperti umumnya warga Desa Karang Tengah, jauh dari sejahtera. Tinggal di kawasan berbukit-bukit membuat warga mustahil menanam padi, apalagi air sulit didapat. Di sana juga terdapat transmigran lokal, di antaranya pedagang dari Parangtritis, korban gempa bumi Yogya. "Kami dapat banyak tawaran lokasi, di antaranya Kaliurang. Namun, lebih baik di Karang Tengah sekaligus memberdayakan masyarakat kurang beruntung," kata Direktur PT Yarsilk Gora Mahottama Fitriani Kuroda.

Fitriani adalah eksportir benang sutra ke Jepang. Ia kerap bekerja sama dengan Gusti Pembayun, putri sulung Sultan Hamengkubuwono X, untuk mengembangkan ulat sutra. Gusti Pembayun-lah yang memperkenankan Sultan Ground Karang Tengah untuk disulap menjadi koloni ulat sutra.

Cerita ulat sutra di Sultan Ground itu bermula dari Profesor Hiromu Akai, Ketua Perkumpulan Sutra Liar Dunia, yang ”mencekoki” pikiran kerabat Keraton Yogyakarta, termasuk Fitriani, bahwa ulat sutra Indonesia sangat bernilai. Ulat sutra itu bukan yang dibudidayakan, tetapi ulat sutra yang liar.

Sebelumnya, warga Karang Tengah menganggap ulat sutra adalah hama yang menyebabkan daun-daun tanaman mereka gundul sehingga tidak jarang mereka membasminya, menggoreng, lalu memakan hama itu.

Sebagai mitra Universitas Gadjah Mada yang kerap menyusuri pedesaan di Yogyakarta, Prof Hiromu melihat hal itu. Dia terkejut setelah mengidentifikasi ulat sutra yang dibunuh penduduk itu adalah jenis Cricula triphenestrata. Spesies ini adalah satu-satunya spesies di dunia yang memproduksi benang sutra berwarna emas.

Hiromu pernah mencoba membudidayakan Cricula di Jepang, tetapi gagal. Tampaknya spesies ini hanya hidup di habitat dan iklim tertentu, seperti di Pulau Jawa. Cricula merupakan spesies unggul ulat sutra di Pulau Jawa, selain spesies lain seperti Attacus atlas dan Antheraea. "Karena ulat sutra liar Cricula hanya hidup di Indonesia, seharusnya kainnya menjadi produk eksklusif Indonesia. Boleh jadi dapat sejajar dengan produk internasional seperti Armani dan Gucci,"  kata Fitriani.

Satu kilogram benang dari ulat murbei yang dikolonikan di ruangan harganya Rp 60.000-Rp 120.000. Sedangkan, 1 kg benang dari ulat sutra liar berwarna coklat harganya Rp 1,5 juta dan berwarna emas Rp 2 juta per kg. Bila Indonesia mengandalkan produk ulat sutra murbei, tentu kualitas dan harganya akan kalah bersaing dengan produk China. Negara itu telah mengembangkan budidaya ulat sutra sejak 5.000 tahun lalu, sejak diperkenalkan permaisuri Lei Zu.

Penumpang Garuda

Berbeda dengan ulat sutra budidaya yang dikoloni di ruangan, ulat sutra liar yang hidup di luar ruangan lebih rentan terhadap predator, seperti semut, burung, dan cecak. Namun, benang yang dihasilkan lebih berkualitas. Karena hidup di alam, dibutuhkan lahan luas untuk menanam pohon tempat ulat sutra hidup. Dari 40 hektar Sultan Ground Karang Tengah, maskapai penerbangan Garuda Indonesia sepakat melakukan penghijauan pada 12 ha lahan, yaitu dengan menanam 50.000 pohon.

Bertajuk ”One Passenger, One Tree”, penumpang Garuda rute Jepang diajak untuk menyisihkan 1.000 yen atau sekitar Rp 85.000. Dana itu untuk membeli dan merawat satu pohon. "Penumpang Jepang sangat setuju. Mereka lebih menghargai terbang bersama Garuda sebab merasa turut menghijaukan lingkungan dan mengurangi pemanasan global"” ujar juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto.

Ajakan ”saudara tua” Asia itu didasari alasan karena tingkat kesejahteraan warga Jepang relatif tinggi ketimbang penduduk Asia lainnya. Selain itu, masyarakatnya sensitif terhadap isu lingkungan. Mereka lebih menghargai produk alam, apalagi yang diproses dengan tangan.

Dibayangi kebudayaan China, orang Jepang pun mengakrabi kain sutra. Warga Jepang menyukai karya yang kaya detail dengan kualitas terbaik. "Kami juga membuat program ecotourism. Jadi, turis Jepang tidak hanya ke Borobudur atau Bali, tetapi diajak ke desa wisata seperti Karang Tengah,"  kata Arif Wibowo, Manajer Distrik Garuda Indonesia untuk Jepang, China, Korea Selatan, dan Amerika.

Kini Garuda telah terbang menuju Tokyo dan Osaka. Pada Juni 2008 akan dibuka rute Denpasar-Nagoya. tapi 70 persen kursi pada bulan itu telah laku terjual. Setiap tahun ada 100.000 penumpang (rute Tokyo) dan 60.000 penumpang (rute Osaka). Sebanyak 80 persennya adalah wisatawan.

Keterlibatan industri penerbangan dalam mengangkat ekonomi desa dapat dilakukan di banyak tempat di negeri ini. Di Bali, misalnya, dapat dirancang industri papan selancar dengan pendanaan dari penumpang Garuda yang berasal dari Australia yang gemar berselancar. Kerajinan ukiran kaligrafi untuk penumpang dari Timur Tengah dan sebagainya. Sentuhan sektor pariwisata tidak hanya membuat hutan Karang Tengah semakin rimbun, tetapi juga memberi penghasilan tambahan pada keluarga dari hasil industri rumah tangga ulat sutra.

Dalam seminggu, para ibu rumah tangga di desa itu dapat menyelesaikan empat lembar kerajinan ulat sutra liar yang harga per lembarnya Rp 17.000. Bupati Bantul Idham Samawi menyambut baik uluran tangan banyak pihak kepada Karang Tengah. Lahan yang semula tandus kini dapat dijadikan desa wisata.

Fitriani berjanji akan mendirikan laboratorium, selain pabrik pemintalan benang dan wisma penenunan kerajinan ulat sutra. Penginapan yang dibangun dari kayu akan didirikan. Desa Karang Tengah akan melengkapi ”koleksi” desa wisata Kabupaten Bantul. Saat ini, sudah ada Desa Manding (kerajinan kulit), Kasongan dan Pundong (gerabah), Banyusumurup (keris), serta Pendowoharjo (patung primitif). (HARYO DAMARDONO/KOMPAS)