Minggu, 20 April 2014

News /

Mengalah untuk Menang

Minggu, 27 April 2008 | 01:30 WIB

Baca juga

 

 

 

Geger Riyanto

Dalam kompetisi, kelemahan dapat diterjemahkan sebagai kekuatan. Mereka yang dianggap lemah, tidak dijagokan alias underdog, justru akan bermain tanpa tekanan karena dipandang sebelah mata oleh lawannya maupun penonton.

Toh, politikus atau pengusaha mana yang akan menggubris dua sosok kartunis yang hanya lulusan sebuah institut kesenian sebagai ancaman? Tetapi itulah strategi yang juga mereka gunakan dalam kartun mereka, mengalah untuk menang. Menikam tanpa disadari bahwa mereka sedang menikam.

Kartun pasca-kolonial

Bre Redana menyebut kartun mereka menyajikan sesuatu yang apa adanya, tanpa kelihatan ingin mengarifkan diri, namun berpihak kepada rakyat. Dalam kata pengantarnya untuk buku kumpulan kartun, Jakarta Luar Dalem itu Bre menggolongkan kartun mereka sebagai realisme sosial.

Menurut saya, kartun mereka tidak hanya menggambarkan kenyataan. Sebab tidak dengan sendirinya kenyataan yang disajikan dalam karya seni lalu menimbulkan keberpihakan kepada rakyat, tetapi mesti dioperasionalisasikan terlebih dahulu melalui benak pengarangnya. Dan yang Benny dan Mice lakukan adalah mempermainkan, dan mengaduk-aduk kenyataan itu—kenyataan Jakarta yang telah mereka geluti sejak buku pertama mereka.

Tentu pada kenyataannya, tidak ada yang mengenakan anting sangkar burung dan anting ember seperti yang Benny dan Mice tampilkan dalam kartun. Tentu tidak ada yang sampai memakai kawat beneran untuk menandingi tren kawat gigi di antara anak-anak muda metropolitan, kecuali sosok kartun mereka.

Di atas kanvas tipis putih itu, mereka menumpahkan kegilaan yang hendak—namun tak mungkin—mereka sampaikan di ranah nyata. Yang hendak mereka lakukan adalah mengganggu keseimbangan nan absurd yang berlaku di Jakarta.

Jakarta tidak pernah menjadi metropolitan sebagaimana metropolitan di Barat. Tubuh warga Jakarta bukanlah tubuh Barat. Ketika kehendak mereka memerintahkan untuk mengidentifikasi diri semirip mungkin dengan Barat, ketidaksadaran mereka selalu menjegal. Di sinilah timbul keabsurdan itu. Orang membeli telepon seluler canggih, laptop mahal, sound system mobil yang dahsyat tidak lagi berdasarkan fungsinya, tetapi untuk kecanggihan diri yang seolah-olah.

Bagi Benny dan Mice ini persoalan. Walau begitu, mereka tak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya dengan lagak menggurui. Dalam hal ini, mereka memiliki dua strategi yang saling berjalin kelindan. Pertama, mengalah; dan kedua, mimikri.

Pernah pada satu kartun mereka mengkritik perilaku seorang wanita yang membeli telepon seluler mahal, tetapi di boks cerita terakhir mereka dipecat oleh bosnya. Dan ada kartun lain mereka yang serupa polanya, di boks akhir mereka merenung apakah mereka kritis ataukah hanya karena kere—yang berarti iri. Meski sebagai pengarang, mereka selalu mengalah—menjadikan diri mereka sebagai obyek kekonyolan itu sendiri.

Tetapi itulah yang menghancurkan tembok relasi pengarang dan pembaca yang selama dibangun selayaknya relasi guru dan murid oleh kartunis-kartunis lain. Kehadiran mereka terasa begitu dekat dan akrab di imaji pembacanya. Dan saat pembaca nyaman dengan kedekatan itu, pembaca menurunkan penjagaannya. Lalu pesan yang mereka selundupkan ke pembaca, dan masuk bagai pengaruh dari teman sendiri.

Dan mimikri adalah strategi menyamar meniru obyek yang dilawan agar dapat menandinginya, namun tetap sembari menjaga kekhasan dan identitasnya. Konsep ini kerap dikemukakan oleh Homi Bhabha dalam kritik pasca-kolonial, menggambarkan perlawanan masyarakat yang terkolonisasi dengan menyusuri dan memanfaatkan balik bahasa hegemoni dari penjajahnya, untuk mengejek dan menghancurkan panoptikon pihak penjajah dalam ranah wacana.

Di Jakarta, ujar Benny dan Mice, lebih baik kurang berat badan daripada kurang gaya; di Jakarta tubuh-tubuh asiatik itu terbata-bata ketika hendak berlaku layaknya manusia dari belahan dunia yang lain. Jakarta, kota ini berdiri di atas keseimbangan yang absurd.

Dalam mimikri, mereka seolah mengikuti tren namun dengan memasukkan aspek ke-”udik”-an, ke-”terbata”-an, ke-”kampung”- an yang dikembangkan secara begitu hiperbolis. Begitu udiknya sehingga absurdnya melampaui batas, dan bagai menimbulkan overdosis bagi Jakarta. Hasilnya adalah luluh lantaknya otoritas diiringi gelak tawa pembacanya. Tanpa sadar, pembaca sebagai subyek wacana Barat-sentris, canggih-sentris, nge-tren-sentris telah ditikam.

Politik manusia

Dalam membaca kartun Benny dan Mice sebagai kartun pasca-kolonial, kita akan menemukannya sarat dengan politik sindiran atau politik mengganggu keseimbangan. Tetapi kartun mereka tak hanya berhenti pada level dekonstruksi. Pada tahap selanjutnya, mereka menyusupkan sosok-sosok manusia Jakarta yang dalam proses menerabas tren yang absurd, untuk menemukan diri yang sesungguhnya.

Dalam kartun 100 tokoh yang mewarnai Jakarta, sosok itu mereka tampilkan pada pedagang kerak telor yang tak kunjung jemu menjalankan usahanya meski telah berpuluh-puluh tahun. Lalu dinarasikan pada pemuda pencari kerja yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, namun akhirnya meletakkan ijazahnya untuk memilih kehidupan yang lurus, sebagai penangkap kodok di selokan.

Siapa pun tak bisa menyangkal bahwa pemuda itu menari-nari perasaannya di boks-boks terakhir guratan Benny dan Mice, bahwa kebahagiaan dirinya dapat meluap meski berkubang dan tak usah membohongi atau merugikan orang lain. Batasan antara pilihan yang rasional dan tidak rasional, yang bersih dan yang jorok, yang tinggi dan yang rendah telah dilebur. Pemuda itu telah menang meski mengalah, sebab ia tak mengalah untuk nuraninya.

Dan pada akhirnya, tiap sehabis membaca kartun Benny dan Mice saya selalu merasa babak belur. Disepak oleh kepolosan tokoh Benny dan Mice yang menyindir, dan dibuat gamang oleh ketulusan tokoh-tokoh mereka lainnya. Saya menjadi gamang sebab pilihan-pilihan hidup yang tadinya rasional telah dijungkirkan, ditelan imaji manusia yang mereka tawarkan. Namun, bagaimanapun imaji manusia itu terlampau berat untuk saya jalankan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah.

Geger Riyanto Alumnus Sosiologi Universitas Indonesia


Editor :