Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 20:32 WIB
Warga Ambon tak Terpengaruh HUT RMS
| Jumat, 25 April 2008 | 10:58 WIB
|
Share:

KOMPAS/SUTTA DHARMASAPUTRA
Kota Ambon

AMBON, JUMAT-Warga Kota Ambon dan sekitarnya, tidak terpengaruh HUT gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS).

Berdasarkan pemantauan, sejak Jumat 25/4) dini hari, kegiatan sosial-kemasyarakatan berlangsung normal termasuk pemasokan sayur-mayur dan bahan kebutuhan pangan dari sentra-sentra produksi seperti dan Taeno, Kecamatan Teluk Ambon dan Waiheru, Kecamatan Baguala, berlangsung normal dengan diangkut Angkot ke pasar Mardika, Batumerah, Nusaniwe dan Tagalaya.

Aktivitas transaksi sayur- mayur yang biasanya terjadi subuh hari itu tidak terpengaruh informasi penangkapan oknum bendahara RMS, Marthin Telussa bersama istrinya Enny Telussa, warga RT 002/RW03, Kelurahan Benteng, Kamis petang(24/4) petang serta Steven Tanasale, warga Kelurahan Kudamati, Jumat dinihari.

Begitu pula kegiatan pendidikan yang siswa SLTA/SMK dan MA baru menyelesaikan Ujian Nasional, kemarin(Kamis-red), selanjutnya memulai ujian praktek serta aktifitas belajar mengajar di SMP- SD - TK berjalan normal. Kegiatan perkantoran, baik pemerintah maupun swasta dan aktivitas perekonomian, pembangunan serta pelayanan sosial lancar dan aman.

Ketua DPRD Maluku, Richard Louhenapessy menilai, masyarakat semakin menyadari penting dan strategisnya stabilitas keamanan kondusif sehingga tidak terpengaruh upaya mengembalikan kedaulatan RMS yang diproklamirkan 25 April 1950 lalu. "Sekiranya masih ada upaya perbuatan makar terhadap NKRI itu hanyalah segelintir orang yang tidak sadar perjuangan memperebutkan Kemerdekaan yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 lalu dengan Maluku tercatat satu diantara delapan Provinsi kemerdekaan,"tandasnya.

Sekda Maluku, Said Assagaff, secara terpisah, menghaturkan terima kasih terhadap masyarakat karena berperanserta memelihara stabilitas keamanan dengan tidak terprovokasi HUT RMS yang sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dengan siaga ekstra ketat di masing-masing permukiman karena khawatir ada bendera "benang raja" maupun atribut lain dari organisasi sempalan itu ditempelkan.

"Lihat saja aktivitas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial normal dan lancar itu berarti masyarakat semakin tinggi kesadaran untuk memelihara stabilitas keamanan sehingga tidak terprovokasi kegiatan simpatisan/anggota RMS maupun teroris yang dijaga personil TNI dan Polri," ujarnya.

Polda Maluku dalam mengamankan HUT separatis RMS menggelar operasi dengan sandi "merah putih" siwalima dengan berbagai kegiatabn bakhti sosial, sweping Miras dan kenderaan bermotor, mengecek kesehatan Napi di Lapas maupun rumah tahanan rumah tahanan serta berbagai kegiatan sosial di Desa Aboru, Pulau  Haruku(Maluku Tengah).

Desa Aboru tahun-tahun sebelumnya dikibarkan puluhan hingga ratusan bendera RMS, Desa asal pimpinan transisi Front Kedaulatan Maluku(FKM) yang memperjuangkan kedaultan RMS, Simon Saiya serta puluhan warga Desa ini sementara menjalani hukuman karena terlibat berbagai kegiatan RMS seperti aksi "tarian liar" saat perayaan Harganas di Ambon yang dihadiri Presiden, Susuli Bambang Yudhoyono.

Simon Saiya kini maish buron sebagaimana pimpinan eksekutif FKM/RMS, Alexander Manuputty yang lari dari LP Cipinang tahun 2004 lalu ke Amerika Serikat.(ANT)