Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 16:28 WIB
Kerusakan Lingkungan, Ancaman Serius Kota Jayapura
| Kamis, 24 April 2008 | 16:26 WIB
|
Share:

KOMPAS/ARYO WISANGGENI G
Bentang Jembatan Kelandili patah tiga bagian karena terkikis banjir kiriman dari Pegunungan Cycloop, Kabupaten Jayapura, Papua, pada 6 Maret 2007. Saat itu warga bisa melintas melalui pagar besi yang diletakkan sebagai penghubung bentang patah.

JAYAPURA, KAMIS - Kerusakan lingkungan hidup di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya seperti penambangan liar dan penambangan bahan galian C beberapa tahun belakangan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan dan keselamatan hidup masyarakat yang bermukim di ibu kota provinsi tertimur dari kepulauan Nusantara ini.

Pengakuan itu dikemukakan Kepala Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Jayapura, Dr Jan Hendrik Hamadi kepada Antara di Jayapura, Kamis (24/4).

Hamadi menjelaskan, Jayapura sebagai pusat pengendalian pemerintahan pada masa  pemerintahan kerajaan Belanda berkuasa di Irian Barat hingga menjadi salah satu pangkalan sekutu melawan Jepang ketika berkecamuknya Perang Dunia II 1942-1945 dikenal sebagai sebuah wilayah yang punya alam yang ramah.

Pemerintah Belanda ketika itu memiliki perencanaan pembangunan dan penataan Jayapura yang berwawasan lingkungan namun sekarang semuanya telah berubah secara drastis  seperti daerah resapan air di Entrop, Distrik Jayapura Selatan kini berubah menjadi pusat perbelanjaan Papua Trade Centre (PTC).

Hutan lindung di kawasan Dok V sampai Angkasapura yang dulu menjadi penyangga Pegunungan Cyclops dan menjadi sumber air bersih berdebit tinggi kini terancam punah.

Di kawasan Abepura didirikan rumah barak dengan seng bulat yang bertahan ratusan tahun lamanya, namun kini rumah tersebut berubah total menjadi bangunan kantor, perumahan penduduk, pusat perbelanjaan.

Pertanian dan perkebunan percobaan di kawasan Kotaraja di Distrik Mnohok kini berubah dan yang tampak adalah berdiri gedung megah, sekolah, perkantoran pemerintah dan swasta serta dunia usaha.

Setelah Jayapura berubah menjadi kabupaten dan terus dimekarkan menjadi Kotamadya pada tahun 1986, terlihat  bangunan fisik megah dengan konsentrasi penduduk yang cukup padat dengan konsekuensi kondisi geografisnya sempit dan tidak rata.

Belakangan ini, peralatan berat terus menggali karang, tanah, batu dan kerikil di pusat kota Jayapura seperti di kawasan Hamadi Gunung, Polimak (di dekat Kodam XVII Cenderawasih-Red), belakang kantor wali kota di Entrop, tanjung Teluk Yotefa yang termasuk Taman Wisata Teluk Yotefa.

Lebih parah lagi, penebangan kayu untuk pembuatan rumah dan pembakaran arang sudah masuk dalam kawasan cagar alam Pegunungan Cycloops yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh sebuah badan dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kawasan itu menjadi sumber utama air bersih bagi penduduk di kota ini.

Hamadi menjelaskan, Cycloops telah menjadi perhatian utama sebagai sumber air bersih bagi manusia dan makhluk lainnya, sehingga pusat pemerintahan di bangun di arah timur itu.

Namun keinginan pemerintah lain yaitu dengan produk hukum dan Undang-undang serta kebijakan dari para elite pemerintahan itu sendiri, sehingga Jayapura dipaksa menjadi Kotamadya dan kini terjadi perubahan pembangunan fisik begitu pesat dan konsentrasi penduduk pun sangat padat, tetapi lingkungan alam yang menjadi penyangga bencana alam pun terus digilas sampai lereng kawasan cagar alam Pegunungan Cycloop.

"Cycloop terus diganggu, maka tidak tertutup kemungkinan pada  suatu ketika Cycloop bukan lagi menjadi sumber mata air, tetapi sumber air mata (bencana alam-Red)," katanya prihatin. (ANT)