Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 20:03 WIB
Lonjakan Pengangguran Mengancam
| Selasa, 22 April 2008 | 14:24 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Kepala Ekonom Bank Mandiri Martin M Panggabean mengkhawatirkan tingkat pengangguran akan melonjak bila kondisi perekonomian saat ini tidak dibarengi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) secara terukur.
 
"Kalau inflasi terus naik dan kurs melemah maka rumus sederhananya pengangguran bertambah. Sangat penting bagi pemerintah dan BI menyadari soal pengendalian inflasi. Sebab akan membantu masyarakat yang hidup di sektor riil dan tidak lakukan PHK," kata Martin dalam presentasi Economic Outlook 2008 di Jakarta, Selasa (22/4).

Menurut Martin saat ini ancaman inflasi terlihat sangat riil dengan naiknya berbagai harga komoditas dunia. "Ada tiga sumber tekanan inflasi yang relevan terhadap ekonomi Indonesia yakni komoditas global, kurs, dan tekanan harga minyak dunia terhadap anggaran," katanya.

Dari sudut kurs perhitungan Bank Mandiri menunjukkan kurs saat ini berada pada nilai yang wajar, Rp 9.258 per dolar AS. "Ke depan kami melihat masih ada pelemahan kurs karena harga produk yang diimpor Indonesia dari pasaran dunia sudah meningkat sehingga nilai tukar Indonesia terdepresiasi dan menyebabkan nilai wajar kurs melemah," kata dia.

Tekanan kedua terhadap inflasi datang dari anggaran. Sampai tanggal 18 April, harga Indonesian Crude Price (ICP) sudah mendekati 100 dolar AS per barel. "Kalau pemerintah memberlakukan Smart Card atau merubah Oktan-90 menjadi Rp 5.500 per dolar AS dampaknya tetap kenaikan harga BBM di tingkat eceran," kata dia.

Martin memperkirakan peluang penurunan BI Rate tahun 2008 sulit terjadi dan sebaliknya akan naik paling tidak 8,5 persen atau bahkan 9 persen sampai akhir tahun 2008. "Kami perkirakan ekspansi kredit tahun 2008 akan menjadi 22,5 persen turun dari tahun lalu 26,4 persen," katanya.

Kondisi makro perekonomian seperti ini, lanjut Martin, akan membawa imbas pada pertumbuhan sektor riil yang kami perkirakan hanya akan tumbuh antara 5.6-6.1 persen tahun ini. "Terhadap industri, analisis kami sektor yang sensitif terhadap inflasi seperti industri minuman, rokok, tepung, dan makanan lainnya akan terpengaruh, " jelasnya. (Persda Network/Hasanudin Aco)