Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 19:49 WIB
Proposal Mittal Pekan Ini
Erlangga Djumena | Senin, 21 April 2008 | 07:26 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Karyawan Krakatau Steel berunjuk rasa di Kantor Pusat Krakatau Steel di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (14/4). Mereka menolak rencana privatisasi industri baja yang memiliki produksi baja lembar panas sebesar 2 juta ton per tahun tersebut.

TERKAIT:

JAKARTA,MINGGU - Terkait dengan penawaran untuk membeli saham perusahaan baja milik negara PT Krakatau Steel, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN) Sofyan Djalil akan bertemu dengan perusahan baja asal India Arcellor -Mittal pekan ini. "Mungkin Selasa atau Rabu kita sudah minta mereka untuk presentasi proposalnya," katanya seperti dikutip Antara di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan, pihaknya akan mempelajari proposal yang ditawarkan oleh Mittal.  Perusahaan baja milik Lakshmi Mitta itu menawarkan untuk membeli 30 sampai 40 persen saham PT Krakatau Steel melalui strategic sales.

Terdapat dua opsi privatisasi KS yang tengah dipertimbangkan, yaitu melalui penawaran umum perdana saham kepada publik (initial public offering/IPO) atau strategic sales. Privatisasi pabirk baja yang saat ini menghasilkan 2,5 juta ton ini masih dibahas antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).    

Privatisasi merupakan upaya agar industri baja di Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Untuk itu, sebut Sofyan, bila terjadi kerjasama antara Krakatau Steel dan Mittal pada intinya untuk masa depan Krakatau Steel yang lebih prospektif khususnya dan industri baja dalam negeri pada umumnya.

Chief Executive Officer (CEO) Arcellor Mittal, Lakshmi Mittal merupakan orang terkaya nomor empat dunia dengan nilai kekayaan 45 miliar dollar AS. Keluarga Mittal mendirikan PT Ispat Indo di Sidoarjo, Jawa Timur pada 1976 yang merupakan investasi pertama Grup Mittal di luar India. Total produksi PT Ispat Indo saat ini 700.000 ton per tahun, meningkat jauh dari produksi saat pertama kali perusahaan itu didirikan, yakni 60.000 ton.