Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 19:35 WIB
Kenapa Kalau Golkar Kalah Selalu Dibesar-besarkan?
Inggried Dwiwedhaswary | Jumat, 18 April 2008 | 18:04 WIB
|
Share:

JAKARTA, JUMAT - Sejumlah pengamat menilai, kekalahan partai-partai besar pada pertarungan Pilkada belakangan ini sebagai sebuah tamparan keras bagi partai-partai tersebut, seperti Golkar dan PDIP. Namun, Ketua DPP Golkar Firman Subagyo justru mengatakan bahwa kekalahan yang dialami partainya terlalu dibesar-besarkan dan terlalu diekspose.

Hal itu dikatakan Firman kepada wartawan di Gedung DPR, Jumat (18/4)."Kalau kita kaget, atau terpukul, saya pikir terlalu berlebihan. Karena dalam Pilkada semua sudah bisa diprediksi. Kenapa kalau Golkar kalah selalu diblow up. Tapi kalau kita menang dianggap biasa saja," ujar Firman.

Akan tetapi, Firman mengakui ada sejumlah faktor kelemahan yang menjadi sumber kegagalan Golkar. Diantaranya, tidak melakukan survey mengenai tingkat popularitas calon yang dimajukan. Faktor lainnya, tidak besarnya kekuatan DPP untuk menentukan calon yang akan dipertarungkan dalam Pilkada. "Untuk tingkat Kabupaten/Kota, DPP hanya punya hak suara sebesar 20 persen. Untuk tingkat provinsi hanya 40 persen, jadi tidak mayoritas. Saya pikir DPD saja yang terlalu yakin dengan calon-calonnya," ujar Firman lagi.

Menariknya, Firman juga mengutarakan adanya fenomena ketidakpercayaan pemilih terhadap para calon yang pernah gagal. Ia mencontohkan, Gubernur Jabar incumbent Danny Setiawan yang kembali bertarung dalam Pilkada, merupakan sosok yang dikatakannya tidak cukup berhasil memimpin Jabar.

"Misalnya, masalah sampah. Bertahun-tahun nggak selesai. Masyarakat merecord kerjanya, karena dia dianggap figur yang gagal. Kedua, pasangannya dari tentara. Kalau saya melihat, tentara yang mencalonkan diri selalu gagal. Lihat saja Pak Agum, coba Cawapres, gagal. Kemudian di DKI gagal, dan sekarang gagal lagi. Jadi kedua pasangan itu bukan pilihan, sehingga Hade dianggap sebagai satu-satunya alternatif. Karakter pemilih kita itu, kalau pernah gagal pasti tidak akan dipilih lagi," paparnya.

Sementara itu, pengamat politik Yudi Latief mengatakan, kegagalan Golkar lebih dipicu karena tidak adanya konsolidasi yang kuat di level internal partai. "Misalnya di Pilgub Suut. Ada 3 calon partai Golkar yang maju, akhirnya akan terpecah. Repot di konsolidasi internal. Mungkin karena merasa sudah besar, dibiarkan saja calon-calonnya jalan sendiri tanpa dukungan infrastruktur partai yang kuat," kata Yudi.Yudi melanjutkan, penyakit di tubuh partai-partai besar adalah beranggapan bahwa kemenangan itu datang dengan sendirinya. (ING)