Evy Rahmawati dan Elok Dyah Messwati
Faisal (8) meringkuk di atas ranjang yang berada di Ruang Perawatan Anak, Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Tubuh kurus siswa kelas dua SD di Jakarta Utara itu ditutupi selimut tipis. Salah satu pergelangan tangannya dipasangi jarum infus.
Di beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian lengan, terdapat luka borok bernanah. Keluarganya tak menyangka, luka itu akibat tuberkulosis (TB). Tak ada batuk-batuk seperti gejala khas penyakit itu. Sakit yang diderita berawal ketika ia jadi korban permainan smack down yang dilakukan saudara sepupunya sendiri. ”Saat dilempar, kepalanya terbentur tembok, lalu badannya panas,” ujar ibunya Eviana, seorang buruh pabrik.
Serangan TB tak pandang bulu. Selain anak-anak, kelompok usia dewasa pun terkena penyakit mematikan ini. Ny Jumroh (42), warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, telah bergelut dengan TB sejak 2006. Pada mulanya, ia menderita batuk, lemas, dan sering sakit kepala.
Saat berobat ke dokter, ia didiagnosis menderita TB dan harus menjalani pengobatan hingga tuntas selama enam bulan.
Namun, selang beberapa bulan, penyakitnya kambuh ketika kadar gulanya meningkat. Ia sempat kejang dan demam. Beruntung setelah dibawa ke rumah sakit terdekat, nyawanya bisa diselamatkan. Kini, ia menjalani pengobatan selama delapan bulan secara gratis di klinik Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Sementara Rahmat (28), sejak awal Maret 2008 mulai batuk-batuk dan mengeluarkan riak darah. Ia ketakutan. Ia kemudian memeriksakan diri ke klinik TB PPTI di Jalan Baladewa, Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat.
Rahmat yang bekerja sebagai penagih ini harus bersepeda motor ke mana-mana sehingga dadanya terus-menerus diterpa angin ditambah kebiasaannya merokok satu bungkus setiap hari dan sering minum minuman beralkohol. ”Saya sudah rontgen dan hasilnya ada flek,” kata Rahmat yang disodori surat perjanjian pengobatan di klinik PPTI Baladewa supaya dia tidak putus berobat di kemudian hari.
PMO
Keberhasilan pengobatan TB tidak terlepas dari dukungan keluarga pasien sebagai pengawas minum obat (PMO) dan peran serta pengabdian para petugas kesehatan. Wuri Wahyuni, koordinator laboratorium klinik PPTI, sejak sebelas tahun silam dengan tekun memeriksa sampel dahak para pasien untuk mengetahui seseorang terkena TB atau tidak.
Bersama sejumlah petugas laboratorium lain, setiap hari, sedikitnya 25-30 sampel dahak diperiksa. Jika tidak hati-hati, tak tertutup kemungkinan ia tertular TB. ”Memang sempat terdengar ada petugas yang tertular TB. Takut juga sih, apalagi saya punya anak kecil,” tuturnya.
Gaji yang diperolehnya tak seberapa dibandingkan dengan risiko yang harus dihadapi. Setiap bulan, ia digaji sekitar Rp 1,3 juta ditambah jatah makan siang. ”Kalau dibandingkan di rumah sakit umum, gaji saya lebih kecil. Tetapi saya memilih tetap di sini karena dekat rumah dan ada unsur sosialnya,” kata Wuri menambahkan.
Di klinik PPTI Baladewa Jakarta Pusat, Slamet Rahayu (60) mengabdi sejak 1970-an, sebelum klinik ini memiliki bangunan. Dari semula sebagai tenaga kebersihan, tahun 1978 ia diangkat menjadi tenaga honor. Tugasnya, antara lain, mengurus arsip pasien TB dan mengunjungi pasien yang tidak mengambil obat ke klinik.
”Kalau pasien lalai mengambil obat, maka kami antarkan ke rumahnya,” kata Slamet Rahayu. Kalau jarak rumah pasien jauh, ia menggunakan sepeda motor inventaris klinik, tapi kalau dekat di seputar klinik, Slamet lebih suka mengayuh sepeda.
Diskriminasi
Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PITI) Ratih Siswono Yudohusodo menyatakan, masalah TB merupakan tantangan berat dalam bidang kesehatan. Meski kini hampir setiap puskesmas memberi pelayanan pengobatan TB, angka putus obat di Indonesia masih relatif tinggi.
”Sekarang sudah lebih baik upaya promotif dan kuratifnya, tetapi strategi DOTS bagi penderita TB belum banyak diterapkan di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia sehingga angka putus berobat pasien TB di rumah sakit sangat tinggi dibandingkan pasien yang berobat ke puskesmas,” kata Ratih.
Kendala lain adalah stigma masyarakat terhadap penderita sebagai sumber penularan penyakit itu. Banyak pasien mengalami diskriminasi dan dijauhi komunitas di sekitarnya gara-gara menderita penyakit itu, bahkan ada yang dikeluarkan dari tempat kerjanya ketika ketahuan menderita TB. ”Padahal, setelah berobat dua minggu, penderita tidak lagi menularkan TB pada orang lain,” ujarnya.
TB ini merupakan penyakit yang harus dipandang secara serius karena 175.000 kematian terjadi setiap tahun akibat TB.
”Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga untuk kasus TB setelah India dan China,” kata dr Zulkifli Amin dari Divisi Pulmonologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Di India, ada 815.000 kasus TB baru per tahun, di China 595.000 kasus TB baru per tahun. Sementara itu, di Indonesia 485.000 kasus TB baru per tahun. Biasanya TB hanya 68 persen yang bisa terdeteksi dan 87 persen di antaranya bisa disembuhkan. Sisanya menjadi sumber penularan. Satu orang bisa menulari 10-15 orang.
Sebanyak 75 persen kasus TB terjadi di usia produktif 15-49 tahun. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Hasbullah Thabrany pada diskusi soal TB di FKUI mengatakan, dari data WHO terungkap, perjalanan alamiah dari 100 penderita TB Paru setelah lima tahun: 50 orang meninggal (menularkan dan perlu terapi), 25 orang tetap sakit dan kronis, serta 25 orang sembuh sendiri.
Jika TB mulai usia 15 tahun dan harapan hidup 60 tahun, maka dari 50 penderita kita kehilangan waktu produktif-usia produktif diperhitungkan usia 20 tahun; 50 x (60-20), sama dengan 2.000 tahun per 100 orang.
”Jadi kita kehilangan waktu produktif 2.000 tahun per 100 orang. Kalau yang menderita TB sebanyak 1,5 juta orang, berapa tahun kerugiannya?” kata Hasbullah. Kerugian ekonomis akibat TB mencapai Rp 8,5 triliun per tahun. Besar kerugian ini hampir separuh jumlah anggaran Departemen Kesehatan tahunan yang jumlahnya sekitar Rp 19 triliun.
Hasbullah Thabrany menyatakan, tanpa kesadaran akan kerugian nasional, upaya pemberantasan penyakit mematikan seperti TB secara klinik tidak akan selesai....
