Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 03:27 WIB
Waigete-Egon Gahar Terputus Akibat Lumpur
Samuel Oktora | Kamis, 17 April 2008 | 21:32 WIB
|
Share:

MAUMERE, KAMIS - Letusan Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur,  tak hanya memuntahkan abu, tapi juga mengganggu aktivitas  warga Desa Egon Gahar. Jembatan Wairaat yang menghubungkan Desa Egon (Kecamatan Waigete) dengan Desa Egon Gahar (Kecamatan Mapitara),  terputus karena diterjang banjir lumpur yang dipicu oleh letusan. 

Meski terletak di Kecamatan Mapitara,  warga Egon Gahar lebih suka melewati jembatan dan Kecamatan Waigete menuju kota Maumere. Waktu tempuh hanya 1 jam, karena jarak lebih dekat (35 km) dan jalan lebih mulus. Setelah jembatan putus, untuk ke Maumere warga  terpaksa  melewati Kecamatan Bola yang jaraknya  lebih jauh (60 km) dan  jalannya rusak parah. ”Akses warga jadi terhambat,” kata Eustakeus Ese Ketik, warga Dusun Ragasoru, Desa Egon Gahar, Kamis (17/4).  

Menurut Kepala Dusun Baokrenget, Desa Egon Gahar, Adeodatus Dewa,  ke Maumere melalui Kecamatan Bola membutuhkan waktu sedikitnya tiga jam. Jika menggunakan ojek, biayanya Rp 80.000 pergi pulang. Dari pengamatan, di jembatan yang putus itu di sekitarnya banyak endapan lumpur dengan ketinggian puncak lumpur sekitar tiga meter. Sementara lebar sungai Wairaat di kawasan itu, sekitar 20 meter.

Kendaraan apa pun praktis tak bisa melewati daerah itu. Untuk memulihkan hubungan melalui jembatan itu diperlukan alat berat menggusur material lumpur. Warga setempat membangun titian darurat dengan melintangkan beberapa batang pohon besar di di lokasi itu. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Egon Gahar, Agustinus Moa menyatakan, aparat Pemerintah Kabupaten Sikka terkesan lamban dalam mengambil tindakan setelah terjadi letusan Gunung Egon itu.

Sementara secara terpisah, anggota tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung yang mengamati aktivitas Gunung Egon, Illyas menjelaskan, bahwa lumpur yang memutuskan jembatan Sungai Wairaat itu merupakan imbas dari materi letusan Gunung Egon pada Selasa (15/4 ) malam lalu. ”Lumpur itu terbawa oleh tumpahan air danau Gunung Egon yang terdesak keluar ketika meletus. Air danau itu bergerak ke hulu sungai, yang kemudian aliran air itu mengikis bagian pinggir sungai hingga membawa banyak lumpur, dan puncaknya menerjang jembatan Wairaat,” kata Illyas.      

Ia juga menganjurkan, selama beberapa hari ke depan jika abu akibat letusan Gunung Egon masih banyak bertebaran, warga diminta untuk mengantisipasi menggunakan masker penutup hidung dan mulut. ”Abu Gunung Egon masih banyak yang bertebaran pascaletusan. Memang akan hilang seiring dengan tiupan angin. Tapi berapa lama abu itu akan hilang tak dapat dipastikan, sebab bergantung angin,” kata Illyas. 

Sementara itu Kepala Pos Jaga Pengamatan Gunung Egon, Yosef Suryanto mengatakan, aktivitas Gunung Egon hingga kemarin masih mengeluarkan asap putih tebal. Selain itu gempa vulkanik juga masih terjadi. Status gunung yang terakhir meletus 28 Januari2004 itu sampai kemarin masih siaga (level III). ”Gempa vulkanik dangkal, maupun gempa vulkanik dalam sejak tadi malam pukul 00.00 sampai sore ini (Kamis) masih terjadi. Apabila frekuensi gempa vulkanik dalam makin banyak, dan kekuatannya makin besar tak menutup kemungkinan akan terjadi letusan susulan,” kata Yosef.