MAUMERE, RABU- Menyusul letusan Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa pukul 22.15 lalu, saat ini 12.316 orang yang tinggal di dua kecamatan, yakni Mapitara dan Waigete, terancam keselamatan maupun kesehatannya.
Material letusan Gunung Egon yang disebut juga Gunung Api Namang itu membubung hingga 4.000 meter dari kawah gunung serta menimbulkan suara gemuruh. Hal itu membuat warga panik dan langsung mengungsi. Sejauh ini tak ada korban jiwa.
Saat kejadian, sekitar 600 penduduk Dusun Baokrenget, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara ,yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari kawah Gunung Egon, mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti ke Desa Natakoli dan Egon, di Kecamatan Waigete.
Rabu (16/4) pagi, warga kembali ke rumah masing-masing untuk berkemas dan bersiap mengungsi. Mereka juga tetap mengikuti pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah Kabupaten Sikka periode 2008-2013 pada pukul 07.00.
“Ketika terjadi letusan, batu gunung ada yang mengenai atap rumah saya. Saat itu juga terjadi hujan abu. Saat terjadi letusan terdengar suara gemuruh seperti suara pesawat terbang yang dekat sekali,” kata Eduardus Seti (40), warga Dusun Weliwatu, Desa Egon Gahar, Rabu di Sikka. Hal sama diungkapkan Camat Waigete Wilhelmus Sirilus.
Abu letusan Gunung Egon menghujani empat desa di Mapitara bagian selatan, yakni Egon Gahar, Natakoli, Hebing, dan Hale, yang total penduduknya 6.638 jiwa. Di Waigete ada dua desa yang terkena, yaitu Egon dan Nangatobong, yang penduduknya 5.628 jiwa.
Dari pengamatan di Desa Egon, sekitar kilometer 24 jalur Maumere-Larantuka, badan jalan dipenuhi abu gunung. Abu itu beterbangan saat kendaraan melintas. Begitu pula saat menuju Desa Egon Gahar (Kecamatan Mapitara) dari Desa Egon (Kecamatan Waigete), jalan mendaki tertutup abu setebal satu sentimeter. Demikian pula atap rumah, tanaman warga seperti pisang, kelapa, kakao, pepohonan di bukit serta sungai.
Jika Gunung Egon dengan puncak tertinggi 1.703 meter dari muka laut itu terus mengeluarkan asap atau abu, maka dalam berapa minggu bahkan hitungan bulan warga membutuhkan banyak air bersih, masker, dan juga obat-obatan. ”Sebab sungai yang mengalir di sekitar Desa Egon dan Nangatobong sekarang dipenuhi abu vulkanik," kata Wilhelmus.
