Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 19:14 WIB
Masyarakat Lahirkan "Budaya Tanding" di Pilkada
Yurnaldi | Rabu, 16 April 2008 | 13:55 WIB
|
Share:

JAKARTA, RABU-Kemenangan "Hade" di Jawa Barat, sama seperti kemenangan "Ismet-Rano" di Tangerang, adalah sinyal bahaya bagi partai-partai politik utamanya partai-partai besar, apabila tidak segera melakukan langkah-langkah penyesuaian baik dalam strategi penggalangan massa maupun rekrutmen kader.

Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit mengemukakan hal itu dalam orasi politik peluncuran bukunya berjudul Tuhan Tidak Tidur (Gusti Ora Sare): Esai Kearifan Pemimpin (Penerbit Buku Kompas, 2008), Rabu (16/4) di Four Seasons Hotel, Jakarta.

"Fenomena ini, dalam batas-batas tertentu menegaskan lahirnya 'budaya tanding' di masyarakat. Masyarakat tidak bisa lagi digiring dalam aliran mengikuti jejaring infrastruktur partai. Mereka condong melihat wajah baru, figur alternatif. Ini bukan berarti harus artis tetapi siapa pun yang memenuhi kriteria calon alternatif," ujarnya.

Menurut Sukardi, putaran mesin politik untuk sementara ini adalah sia-sia jika dihadapkan pada perilaku pemilih. Masyarakat sedang membangkitkan potensi budaya tanding yang ada pada diri mereka. Ini sekaligus membuktikan bahwa karakter masyarakat Indonesia secara umum adalah melodramatik. Melodramatik dalam hal ini, secara umum mereka suka mengharu-biru, mempunyai ingatan pendek, mudah bosan, dan cenderung mengambil sikap diametral. Dalam batasan yang lebih ektrim, tamzilnya adalah "mau kaya tapi tanpa kerja, pandai tapi tidak berkarakter, beragama tapi malas berkorban, dan berpolitik tapi tanpa prinsip".

"Dalam karakter masyarakat melodramatik yang demikian, jika dinamika politik bergerak linier, mereka akan memilih kembali pemimpin yang gagal hanya karena orang tersebut berbuat baik pada hari-hari terakhir menjelang pemilihan. Ini terjadi karena ingatan publik memang pendek. Tetapi apabila pemimpin tersebut tidak berbuat baik, maka pemilih langsung mengambil sikap diametral. Jika incumbent itu pendiam, maka yang akan dipilih adalah yang banyak bicara. Jika ia tidak tegas, maka figur baru yang diimpikan adalah yang tegas. Mereka sudah bosan dengan penampilan," papar Sukardi.

Di hadapan puluhan tokoh dari berbagai kalangan, Sukardi yang menyelesaikan program doktoral (PhD) di National University of Singapore) mengatakan, melihat kasus Pilkada Jawa Barat dan Kota Kabupaten Tangerang, Tuhan memang Tidak Tidur. Ternyata dalam karakter yang melodramatik tersebut, terselip juga potensi perlawanan yang luar biasa. Bahkan karakter ini ibarat dua mata pisau. "Oleh sebab itu, partai-partai besar juga harus melakukan lompatan radikal baik dalam startegi maupun perekrutan kader. Tanpa langkah tersebut, konsolidasi demokrasi akan bergerak lambat, lebih bersifat artifisial daripada substantif," tandas Sukardi.

Pada bagian lain dari orasinya, Sukardi juga bicara tentang seorang pemimpin yang harus menginspirasi rakyatnya, termasuk keberanian untuk mencari the new frontier bagi Tanah Air. Adalah keliru, lanjutnya, jika mengukur keberhasilan kepemimpinan nasional hanya sebatas capaian pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan dan pengangguran. "Seorang pemimpin di Republik ini hanya bisa disebut berhasil apabila mampu merengkuh capaian sosial-ekonomi tersebut dan menekan karakter melodramatik masyarakat. Artinya, membangun character building bangsa, perasaan bernegara, membangun nasional. (NAL)