Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:37 WIB
Gus Dur Sebut SBY-JK Biang Runyam PKB
| Selasa, 15 April 2008 | 20:54 WIB
|
Share:

OMPAS/IWAN SETIYAWAN
Simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di depan poster Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan poster pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari pada deklarasi pencalonan Gus Dur sebagai presiden pada Pemilu 2009 di Surabaya, Minggu (24/2). Deklarasi dihadiri ribuan kader PKB.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jelas-jelas mengucapkan "SBY dan JK" sebagai biang konflik partai besutannya.

"Kan ada orang luar. Muhaimin (Ketua Dewan Tanfidz PKB Muhaimin Iskandar yang dipecat Gus Dur) itu hanya alat," ujar Gus Dur dalam jumpa pers di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Selasa (15/4), perihal akar masalah di PKB.

Siapa orang luar itu? Ia berujar, "SBY dan JK orangnya! Mau apa?". Dalam khasanah singkatan di negeri itu, SBY kependekan dari Susilo Bambang Yudhoyono yang kini presiden, dan JK adalah Jusuf Kalla yang kini wakil presiden.

Sebelumnya, memang beredar kabar bahwa alasan pemecatan Muhaimin dikarenakan Wakil Ketua DPR RI itu terlalu dekat dengan pihak istana. Namun, saat ditanya kebenaran apakah alasan pemecatan Muhaimin itu karena terlalu dekat dengan istana, Gus Dur mengelak.

"Nggak begitu. Keputusan kan di dalam rapat, itu karena dia melanggar. Itu anak buahnya sendiri yang usul supaya Muhaimin itu mengundurkan diri. Pada rapat dia mau mundur, belakangan dia nggak mau. Pimpinan parpol kok begitu," sambung mantan presiden ini.

Gus Dur juga menegaskan bahwa pemecatan yang dilakukan Muhaimin kepada putrinya, Yenny Wahid dari posisi Sekjen sangat tidak berdasar. "Nggak bisa. Pemecatan itu hanya bisa oleh Majelis Syuro, ada sidang gabungan yang menetapkan soal hukumannya seorang. Kalau Muhaimin gak ngerti begini yah sudah kebangetan," sebut Gus Dur.

Sementara itu, menanggapi usulan dilakukan islah antara dirinya dengan Muhaimin, Gus Dur dengan tegas menolak. Ia mengatakan, pernah didorong oleh salah satu Ketua PBNU, Masdar F Mashudi untuk segera melakukan islah dengan keponakannya itu. Namun, bagi Gus Dur, Islah itu ada dua macam. Pertama, sekadar memaafkan dan membina silaturrahmi.

"Itu sudah saya jalankan dari dulu. Yang kedua, mendudukkan orang yang tidak jujur sebagai pengurus partai. Nah itu yang saya tidak mau, dan Muhaimin termasuk mereka," sambung Gus Dur. (Persdanetwork/had)