Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 23:09 WIB
Alamak, Repotnya Menghadapi UN
Inggried Dwiwedhaswary | Selasa, 15 April 2008 | 12:26 WIB
|
Share:

INGGRIED DWI WEDHASWARY
Berbagai brosur penawaran Bimbingan Belajar, terutama bagi siswa kelas XII SMA yang akan mengikuti UN pekan depan

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - Betapa berharganya nilai sebuah kelulusan. Dengan standar yang semakin tinggi diterapkan pemerintah, siswa pun semakin dituntut matang dalam mempersiapkan Ujian Nasional (UN) tahun ini. Lulus UN menjadi harga mati untuk menanggalkan seragam putih abu-abu. Berbagai cara mereka tempuh untuk mempersiapkan diri, salah satunya ikut berbagai Bimbingan Belajar (Bimbel). "Pussiiing," kata beberapa siswa kelas XII SMA 68 yang ditemui Kompas.com, Selasa (15/4).

Sepusing apa sih? Tahun ini, mereka harus menghadapi UN dengan 6 mata pelajaran. Tahun 2007, hanya 3 mata pelajaran yang diujikan. Agus, siswa kelas XII IPA pun mengeluhkan bahwa angkatannya merupakan angkatan percobaan. "Kayaknya angkatan gue ini angkatan percobaan. Pas lulus SD, ada yang berubah entah nama atau apa, gue lupa. SMP juga gitu. Nah, pas mau lulus SMA ujiannya 6 mata pelajaran. Repot bener deh," kata dia.

Tak heran, Agus pun mengikuti dua Bimbel sekaligus. Setiap hari Selasa dan Kamis, mulai pukul 16.00 WIB sore hingga 19.30 WIB ia menjalani pelajaran ekstra di Ganesha Operation. Belum lagi, waktu yang juga disisihkannya untuk mengikuti Pendalaman Materi (PM) yang diadakan di sekolahnya. Berapa biaya yang dikeluarkan orang tua Agus untuk itu?

"Milihnya yang reguler aja, sekitar 2 jutaan. Kalau yang disekolah, biayanya 300 ribu setahun. Normalnya sih 900 ribu, tapi ada subsidi 600 ribu dari sekolah," lanjutnya.

Hebohnya Agus dengan dua bimbelnya ternyata belum seberapa. Rekan satu kelasnya, Kiki, malah mengikuti 3 bimbel sekaligus. Selain ikut program PM yang diisi oleh para alumni SMA 68, Kiki juga mengikuti dua bimbel lainnya, yaitu Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) dan Bimbingan Tes Alumni (BTA) yang dikelola para alumni SMA 8 Jakarta.

Tidak percaya dirikah Agus dengan materi yang didapatkannya di sekolah? "Nggak juga sih, tapi kalo di Bimbel lebih enak belajarnya, lebih bisa ngobrol dengan pengajarnya. Kalo di sekolah kan sama guru lebih kaku, kaya sama orang tua," cerita Kiki.

Untuk program bimbel di KSM, orang tua Kiki harus merogoh kocek sekitar Rp 4 juta (program sampai SPMB). Masih ditambah dengan bimbel di BTA Rp 2,1 juta dan PM sebesar Rp 300 ribu. Akibatnya, Kiki pun tak punya banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas lain, selain belajar. Bayangkan saja, Senin sampai dengan Kamis ia les di KSM mulai pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB. Hari Sabtu, selama setengah hari mulai pukul 07.00 WIB pagi hingga 13.00 WIB ia habiskan dengan mengikuti BTA. "Masih ditambah lagi, kalo lagi rajin bareng temen-temen kita juga ngadain belajar bersama," katanya sambil tersenyum.

Menjelang UN pada tanggal 22-24 April mendatang, kesibukan mereka semakin bertambah dengan mengikuti program intensif setiap harinya. Baik Kiki maupun Agus mengakui, dengan mempersiapkan diri melalui Bimbel mereka lebih optimis menghadapi UN yang standar nilai kelulusannya semakin tinggi.