Rabu, 24 September 2014

News /

Mira, Muchus, dan Rumah yang Hangat

Minggu, 13 April 2008 | 01:53 WIB

 

 

 

Susi Ivvaty

”Kami bersyukur, belum lama ini KPR lunas. Tepat sepuluh tahun,” cerita Mira Lesmana tentang rumahnya.

Lho? Produser film dan aktor kawakan kredit rumah juga ya? ”Heh, aku kan bukan produser kaya, ha-ha-ha,” tukas Mira.

Mengasyikkan mengobrol dengan keluarga ini: Mira Lesmana, suaminya, Mathias Muchus, serta dua putra Mira-Muchus, yakni Galih Galinggis (17) dan Kafka Keandre (10). Pas kebetulan mereka sedang bersantai di rumah, di Kompleks River Park, Bintaro Jaya, Tangerang, Banten, Jumat (11/4) sore.

Tidak sulit mencari rumah Mira-Muchus, kecuali justru setelah sampai di depan rumahnya. Rumah itu tidak bernomor. Setelah tengak-tengok rumah-rumah di sampingnya, kami curiga memang rumah tidak berpagar yang tadi itulah rumah Muchus. Dan benar, syukurlah.

Rupanya, papan nomor rumah itu dipasang di pintu samping. Halaman di depan pintu samping itu difungsikan untuk garasi dua mobil dan dua motor trail milik Muchus. Rupanya pula, keluarga ini memang keluar-masuk rumah melalui pintu samping. ”Tamu kalau belum tahu juga lewat sini,” ujar Mira. Terang saja, lha di pintu depan enggak ada nomornya.

Begitu masuk lewat pintu samping, yang terlihat adalah ruangan 3 x 3 meter yang berisi dua set komputer, rak berisi ratusan buku, serta meja dan kursi. Di dinding terpajang beberapa poster film produksi Miles Productions, seperti Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta?, dan Eliana, Eliana. Inilah ruang favorit. Ya ruang kerja, ya ruang main.

”Mau kue?” tanya Mira beberapa saat kemudian. Ia langsung menyodorkan kue itu sebelum kami menjawab ya. Galih dan Kafka masih larut bermain games di ruang favorit keluarga, sedangkan kami bersama Mira dan Muchus berbincang di sofa.

Ruang favorit

Di samping ruang favorit itu adalah ruang tengah yang dibiarkan plong tanpa sekat, menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan. Di ruang itulah suasana hangat sebuah keluarga selalu tercipta setiap hari.

Di ruang tengah itu Galih dulu sering bermain bola. Di ruang itu pula Mira dulu biasa berdansa dengan Eva, putri Indra Lesmana. Itu dulu. Sekarang ruang itu biasa dipakai untuk kumpul teman-teman Galih dan Kafka, sepuluh anak setiap hari.

Total luas bangunan rumah, termasuk dua kamar Galih dan Kafka di lantai atas, sekitar 280 meter persegi. Selain ruang yang plong tadi, ada kamar tidur Mira dan Muchus, kamar mandi, dapur, serta kamar pembantu. Ada ruang di samping yang digunakan untuk menjemur pakaian. Tetapi, Mira berencana mengubah ruangan itu sebagai dapur yang luas agar semua orang bisa memasak bersama. ”Jemuran nanti dipindah ke atas,” ujar Mira.

Ruang lain? ”Sudah, kami enggak punya ruang lain lagi. Ya segini ini rumah kami. Jadi, mau ngapa-ngapain ya di sini. Kecil, tetapi kami sangat betah tinggal di rumah,” tutur Mira. Muchus menyambung, bukan besar atau kecilnya rumah yang membuat rumah itu nyaman.

”Rumah bagi saya adalah proses pengelolaan rumah tangga yang ideal. Rumah menjadi fondasi kuat untuk masa depan keluarga. Di sana ada cinta dan kasih sayang,” papar Muchus. Jadi, lanjut Mira, rumah adalah tempat berteduh dari segala-galanya, bukan hanya dari hujan dan sinar matahari belaka.

Rumah mereka yang lain di Pamulang, seluas 600 meter persegi di atas tanah seluas 1.100 meter persegi, justru diabaikan. Rumah itu belum kelar dibangun, bahkan kusen-kusennya pernah dicuri orang. ”Rumah itu terlalu besar bagi kami, jadi terasa kurang hangat. Daripada duitnya buat nyelesaiin bangun rumah, mending buat membeli rumah ini,” papar Mira.

Orang rumahan

”Kami ini orang rumahan,” kata Mira. Maksudnya, baik Mira, Muchus, Galih, maupun Kafka inginnya selalu berada di rumah jika tidak ada hal penting yang mesti dikerjakan di luar rumah. Tetapi, itu tidaklah mungkin. Mira dan Muchus harus bekerja dan Galih serta Kafka kudu bersekolah.

”Di luar itu, maunya selalu ada di rumah. Pernah kami sekeluarga piknik ke Pelabuhan Ratu. Baru tiga hari, Galih bilang sudah rindu rumah River Park,” kata Mira.

Di rumah ngapain saja? ”Kebanyakan main games,” sahut Mira, yang menggemari permainan Luxor, Dream Chronicle, Pet Shop, dan Pirates. Sekeluarga juga suka Nintendo Wii, satu permainan menyerupai PlayStation. Main kartu juga sesekali masih dilakukan, seperti capsa dan domino.

Hobi Mira dan Muchus bermain games ini sudah sedari kecil. Kata Mira, memang sudah keturunan. Dulu, almarhum ayah Mira, Jack Lesmana, pernah mengajarinya mahyong, tetapi dia tidak mahir. ”Dulu kan rumah Papa di Tebet suka diapaki kumpul musisi dan aktor. Kegiatannya ya main kartu atau scrabble. Muchus juga suka datang, main kartu sama Papa,” ujar Mira.

Main games ini, menurut Mira, bisa menyegarkan pikiran, menebarkan kegembiraan, dan menularkan kehangatan keluarga. Main kartu, misalnya, bisa sampai lama dan ngakak terus. Yang kalah dibadutin pakai kapur atau spidol. Serunya....

Selain main games, apa lagi? ”Kalau tiga anakku, ya nunggu masakanku,” sahut Mira. Tiga? ”Yang kecil ya Muchus, ha-ha- ha.”

Muchus menukas, masakan Mira memang enak banget, terutama bebek panggang dan sapi lada hitam. Bumbunya pas betul. ”Masakan Mama tuh pecah di lidah,” kata Kafka menggambarkan rasa enaknya.

Oleh karena semua anggota keluarga suka masakan ibu, Mira pun lantas selalu memasak tiap Sabtu dan Minggu. Tak selangkah kaki pun di rumah itu yang tidak bisa mencipta kehangatan keluarga, termasuk dapur.


Editor :