Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 22:37 WIB
ODHA Kesulitan Dapatkan Obat Antiretroviral
Evy Rachmawati | Jumat, 11 April 2008 | 19:10 WIB
|
Share:

 

JAKARTA, JUMAT - Sejumlah rumah sakit sedang mengalami kekosongan persediaan obat antiretroviral lini pertama jenis efevirens dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menyebabkan banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA) kesulitan mengakses obat tersebut dan terancam mengalami putus obat. Padahal, putus obat bisa meningkatkan resistensi virus HIV terhadap obat ARV.

Hal ini telah dirasakan para ODHA. Nina, bukan nama sebenarnya mengaku kesulitan mendapatkan obat ARV yang biasanya bisa didapatnya secara gratis di Rumah Sakit Dharmais. "Saya telah berulang kali mendatangi dan menghubungi Rumah Sakit Dharmais. Tetapi jawabannya tetap sama, obatnya belum ada. Padahal, persediaan obat saya hanya cukup untuk dua hari ke depan," ujarnya.

Jika tidak lagi mengonsumsi obat ARV efevirens, ia khawatir akan mengalami putus obat, sehingga virus yang menginfeksi dirinya akan resisten terhadap obat ARV yang ada. "Ada yang menganjurkan untuk memakai obat ARV lini kedua saja, tapi kan harganya mahal. Dan kalau sudah pakai itu, kan susah balik lagi ke obat ARV lini pertama yang selama ini saya konsumsi," keluh Nina.

Menurut beberapa anggota tim pelayanan HIV/AIDS dari sejumlah rumah sakit di Jakarta, Jumat (11/4), dalam seminar bertema Clinical Research Meeting yang diprakarsai Asosiasi Dokter Peduli AIDS Indonesia, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, kelangkaan pasokan obat ARV efevirens ini telah terjadi beberapa kali dalam setahun terakhir ini.

"Sudah beberapa kali terjadi rumah sakit kesulitan mendapat obat ARV yang selama ini dipasok Departemen Kesehatan," kata anggota tim HIV/AIDS Rumah Sakit Kanker Dharmais yang tidak bersedia disebutkan namanya. Padahal, rumah sakit itu selama ini melayani ribuan pasien yang terinfeksi HIV dari berbagai daerah.

Untuk mengatasi kelangkaan obat tersebut, maka petugas kesehatan memutuskan mengurangi jumlah obat yang diberikan kepada ODHA. Biasanya, setiap kali datang, ODHA mendapat obat efevirens secara gratis untuk dikonsumsi selama satu bulan. Setelah terjadi krisis, maka pihak rumah sakit bersangkut memutuskan untuk mengurangi jatah obat itu jadi hanya untuk dua sampai satu minggu.

"Ini agar setiap ODHA bisa mendapat obat ARV dan tidak sampai putus obat. Jadi, setiap ODHA hanya diberikan sejumlah obat yang dapat dikonsumsi selama dua hari hingga satu minggu," kata Made, anggota tim pelayanan HIV/AIDS Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan.