Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 22:29 WIB
Megawati Masih Rahasiakan "Pendamping"
| Kamis, 10 April 2008 | 17:25 WIB
|
Share:

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) menyanyikan lagu Indonesia Raya saat hadir dalam deklarasi pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo (kanan) dan Rustriningsih (kiri), di Pagelaran Keraton Surakarta, Jawa Tengah, Minggu, 30 Maret 2008.

TERKAIT:

JAMBI, KAMIS - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, masih merahasiakan siapa yang akan mendampingi dirinya dalam pertarungan Pilpres 2009 nanti. Megawati mengaku, belum saatnya bila calon pendampingnya diumumkan sekarang sambil menunggu pelaksanaan Rakernas yang akan diadakan di Kota Solo serta Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

"Sekitar akhir Mei, mungkin. Tapi kan, juga bisa dilihat melalui proses berjalannya konsolidasi  dan situasional secara menyeluruh. Apakah akan termunculkan dalam Rakernas di Sulsel atau di Jawa Tengah, Solo. Kalau diperlukan, masih bisa satu lagi diadakan rapat pimpinan dalam penentuannya, " ujar Megawati yang ditemui sebelum bertolak ke Jakarta usai mengakhiri Safari Politik III di Provinsi Jambi, Kamis (10/4).

Soal kriteria yang diinginkan, Megawati hanya menjawab sambil mengumbar senyuman. "Kriterianya kalau sudah kacau balau. Republik yang sudah kacau balau. Masak saya harus kasih tahu (cawapres) nya hari ini. Kalau hari ini memang sudah disaring, tapi ya nanti saja. Kalau sudah dibilang hari ini, saya nanti tidak dicari lagi sama kalian (wartawan-Red). Saya ini tidak pernah tidak optimis, selalu optimis," tukas Megawati.

Megawati tidak kemudian tidak menjawab secara tegas terkait dirinya akan terganjal dalam pembahasan RUU Pilpres yang kini sedang dibahas oleh Pansus  RUU Pilpres di DPR. Terkait rancangan masalah pembatasan usia, syarat capres yang harus lulus sarjana maupun wacana debat publik bagi capres dan cawapres.

"Namanya juga politik. Semua orang tentunya berharap bahwa pesaing itu, dengan sedemikian rupa, dengan segala cara, tentu saja untuk kemungkinan dianulir. Tentu, kalau kita mau berdemokrasi negatif. Padahal, demokrasi itu, menurut saya tentunya harus positif. Misalnya, saya ditanya soal calon independen, tentunya saya tidak menolak. Mari kita berbicara  bahwa demokrasi sebetulnya untuk kemaslahatan orang banyak, bukan untuk orang per orang," papar Megawati dengan gaya diplomatis. (Persda Network/yat)